Kamis, 10 Oktober 2013

Untitled 1

Dinda merenung di kamarnya.Entah sudah berapa tetes airmata membasahi bantal tidurnya.Entah sudah berapa helai tissue yang berserakan di bawah tempat tidurnya. Dan, entah sudah berapa lama ia melamun dan merenung di dalam kamarnya.
                Rentetan kejadian tadi siang masih terngiang di kepalanya.Rumah sakit, pemakaman, dan rumah, silih berganti di otaknya.Dinda, yang masih mengenakan baju hitamnya kembali meneteskan airmata.Ia masih tak percaya, bahwa sahabatnya akan begitu cepat meninggalkannya. Beribu kejadian yang telah ia buat, kini hanya menjadi buih-buih kenangan.
                Dinda kini merasa sendiri, merasa tak memiliki siapa-siapa.Rasa kehilangan masih menghinggap di hatinya.Mungkin bukan hanya Dinda yang merasakan, tapi semua orang juga.Dina maulina, sahabat karibnya sejak SMP hingga menjejak ke jenjang SMA, kini meninggalkannya untuk selama-lamanya.Dina yang memiliki kanker otak stadium 2 itu semakin parah.Beberapa minggu sebelum dia meninggal, darah terus mengucur dari hidungnya.Kepala pening terus melandanya.Namun, Dina tak mau menyerah.Ia terus berusaha melawan penyakitnya itu. Namun apadaya, Tuhan berkehendak lain. Mungkin benar kata orang-orang, orang yang baik itu biasanya nyawanya diambil lebih dulu.Dan kini itu semua terjadi pada Dina.
                Dina maulina, atau yang akrab dipanggil Dina adalah cewek cantik, sangat pintar, dan memiliki hati yang sangat mulia.Dina dan Dinda bersahabat sejak mereka masih berada di bangku SMP. Meskipun nama mereka hanya berbeda satu huruf, namun sifat mereka berbanding terbalik 360 derajat. Dinda maulinda adalah cewek tomboy, ugal-ugal an, otak pas-pas an, dan sangat cuek. Namun yang namanya persahabatan itu adalah saling mengisi satu sama lain. Disaat Dinda sedang marah, Dina selalu menjadi air penyejuk hatinya.Disaat Dina sedang diganggu oleh pria, Dinda selalu ada untuk menjadi tamengnya.Persahabatan mereka begitu sempurna. Namun kini semuanya hanya akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan oleh Dinda.
                Ketika tadi berkunjung di rumah Dina, Dinda menemukan buku harian di tas Dina yang ia bawa dari rumah sakit. “Mungkin itu punya Dina,” pikir Dinda lalu memasukkan buku itu ke dalam tas nya. Masih dengan linangan air mata, Dinda meraih tasnya lalu mengambil buku harian itu.Ia membuka lembaran pertama, ada nama Dina Maulina tertera di sana. “ternyata benar, ini milik Dina,” batin Dinda dalam hati. Lalu ia membuka lembaran kedua dalam buku harian itu. Karena mata yang dipenuhi oleh airmata, Dinda tak melihat jelas tulisan-tulisan yang Dina tulis. Dari sekilas yang ia baca dari halaman ke halaman, buku harian itu berisi kejadian-kejadian yang ia alami saat hidup. Karena lelah menangis, Dinda meletakkan buku harian Dina di atas mejanya, dan bergegas tidur masih dengan mengenakan baju hitamnya. “aku lanjutkan esok saja membacanya, di sekolah,” pikir Dinda seraya menarik selimutnya dan memejamkan mata.
* * *
                Setelah bersiap-siap, Dinda dan mata sembabnya turun untuk sarapan.Mama yang ada di dapur memerhatikan wajah Dinda.Pucat.Pasi.
                “Dinda, nak, kamu yakin bisa bersekolah?” Tanya mama dengan sedikit khawatir.
                “iya ma, Dinda bisa kok. Masalah yang kemarin yaudah yang kemarin.Dinda harus tetep semangat sekolah, meskipun tanpa…” dinda sengaja menggantungkan kalimatnya. Terasa perih jika ia harus melanjutkan nama itu.
                “iya mama ngerti kok. Yaudah kalo gitu sarapan dulu ya, nanti biar kakakmu yang nganter ke sekolah.”
                “oke,” jawab Dinda seraya mencomot sehelai roti yang telah diolesi selai jeruk.
                Tiba di sekolah, semua anak memerhatikan Dinda.Lebih tepatnya mata Dinda yang sangat kelihatan sembab, akibat menangis semalam. Di kelas pun begitu, anak-anak bergerombolan mengerumuni Dinda. Sebagian anak-anak bertanya tentang Dina, sedangkan sebagian anak-anak yang mengerti kronologi meninggalnya Dina malah bertanya tentang mata Dinda yang sembab.Dinda menjawab pertanyaan mereka walaupun tidak sedetail mungkin. Dinda tak mau berlama-lama mebahas tentang Dina, yang akan membuatnya kembali menangis.
                Istirahat tiba, Dinda sengaja menjauh dari teman-teman kelasnya.Ia memilih untuk beristirahat di pohon belakang sekolah yang lumayan sepi. Ia kembali membuka buku harian Dina dan membacanya dengan detail.
                “10 February 2010. Hari yang menyenangkan, menghabiskan waktu bersenang-senang dengan anak jalanan yang tinggal di bawah jembatan, dengan sedikit memberi uang untuk mereka makan.Ternyata mereka tak seburuk orang-orang bilang. Anak bawah jembatan tidak semua berandalan, buktinya mereka semua baik kepadaku…”
                Dinda menutup buku harian itu, lalu bergegas menuju kelas. Tiba-tiba ia memiliki ide yg sangat cemerlang. Ya, Dinda memiliki cara untuk tetap merasa dekat dengan Dina.
* * *
                Pulang sekolah, Dinda tak langsung menuju rumahnya.Ia memiliki satu rencana yang harus ia laksanakan. Ia bergegas menuju kuburan dimana Dina dimakamkan disitu. Tiba di gundukan tanah dengan nisan yang bertuliskan nama Dina itu, Dinda jongkok di sampingnya. Sambil mengelus batu nisan itu, Dinda berkata, “sorry, Din, aku udah lancang ngambil diary kamu. aku cuman pengen kita tetep ngerasa deket meskipun sekarang kita ada di dunia yang berbeda aku tetep sayang kamu kayak sayang sama sodaraku sendiri. Semenjak kamu pergi, hidupku tuh sepi banget Din. Gak ada lagi julukan cewek kembar beda muka. Gak ada lagi ejekan cewek lesbi, meskipun aku benci banget ejekan itu.Gak ada lagi yang ngajarin aku belajar, gak ada yang nenangin atiku pas lagi emosi. Semuanya bakal beda Din. Kalo kayak gini, mending kita musuhan aja daripada beda dunia. Tuhan lebih sayang kamu deh kayaknya, makanya kamu lebih dulu pergi daripada orang-orang tua di luar sana. Semua orang kangen kamu, terutama aku. kamu yang tenang ya di sana, sering-sering juga maen ke rumahku, tapi jangan bikin kaget ya, hehe..” ucap dinda sambil sesekali menyeka airmatanya. Puas berkangen-ria dengan makam Dina, Dinda langsung menuju ke tempat kejadian berlangsung.
                Bawah jembatan itu ramai oleh ibu-ibu dan beberapa anak kecil. Dinda, dengan hati yang berdebar-debar menghampiri orang-orang itu. Ia memanggil anak kecil perempuan yang berdiri tak jauh darinya. Ia menyuruh anak itu memanggil teman-teman sebayanya. Anak kecil itu langsung menjerit dan memanggil teman-temannya.Segerombolan anak kecil itu kini mengelilingi Dinda.Dengan gelagapan, Dinda membagikan selembaran uang sepuluh ribu kepada anak-anak kecil itu.Awalnya semua kegiatan itu lancar, namun sepeninggal anak-anak kecil tadi, tiba-tiba semua ibu-ibu dan bapak-bapak menghampirinya dan mengantri meminta uang. Dinda gelagapan, uang yang ia bawa adalah untuk anak-anak kecil. Ibu-ibu dan bapak-bapak itu tak termasuk hitungan.Dinda berusaha menolak orang-orang tua itu dengan halus.
                “maaf pak, bu, uang ini buat anak-anak kecil.”
                “saya dulu juga pernah kecil kok,” jawab salah satu dari ibu-ibu itu.
                “tapi uang ini untuk anak yatim, bu,” elak Dinda yang mulai gemas.
                “bapak saya baru meninggal kemarin neng,” ibu yang lain kembali menjawab. Dengan terpaksa, Dinda membagikan sebagian dari uang itu kepada orang-orang tua. Setelah antrian habis, ibu yang tadi berkata bahwa ia adalah yatim berkata, “doakan bapak saya meninggal ya, biar besok eneng bisa datang lagi ke sini, bagi-bagi duit.” Setelah berkata begitu, ibu itu tanpa dosa langsung pergi meninggalkan Dinda.Dinda hanya bisa mengelus dada sambil berkata sabar berulang kali dalam hati.Setidaknya satu kebaikan telah terlaksana.
* * *
Pulang dari bawah jembatan itu, Dinda langsung melepas pakaiannya dan bergegas mandi, bau badannya sudah sangat menyengat.Usai mandi dan berganti pakaian, Dinda kembali membuka buku harian Dina. Dinda tak membaca semua tulisan di  buku itu, ia hanya mengambil beberapa kutipan kebaikan yang Dina lakukan untuk kembali Dinda lakukan agar merasa dekat dengan Dina.
“14 February 2010. Selamat hari valentine! Baru pulang dari panti asuhan, bagi-bagiin coklat buat anak-anak itu. Senengnya bisa ngeliat mereka seneng, meskipun cuman ngasih sebatang coklat hehe…”
Dinda kembali tersenyum. Dia tahu apa yang akan dia lakukan esok.
* * *
Seperti biasa, pulang sekolah Dinda tak langsung menuju rumahnya.Dia menuju ke sebuah supermarket terdekat dan membeli coklat sebanyak mungkin.Ia kemarin telah menelpon panti asuhan yang dulu pernah didatangi oleh Dina. Tentu saja bukan dari buku harian itu ia mendapatkan nomer telpon panti asuhan, tetapi dengan sedikit kepintaran otaknya untuk melacak. Setelah memasukkan coklat-coklat itu ke dalam bagasi motornya, Dinda langsung tancap gas menuju panti asuhan.
Tiba di depan bangunan jaman dulu yang lumayan besar, Dinda memencet bel yang berada di samping pagar panti asuhan itu. Tak lama, wanita baya berjilbab keluar dan membukakan pintu untuk Dinda.
“Sore, bu,” sapa Dinda sopan.
“iya sore, ada apa ya nak?” Tanya ibu itu.
“saya mau ketemu anak-anak panti ini bu, mau ngasih sedikit makanan ringan,”
“oh iya iya, mari masuk. Kebetulan anak-anak sudah pada bangun, mungkin masih mandi,” kata ibu itu sambil mempersilahkan Dinda masuk.Panti itu memiliki halaman yang lumayan besar, mungkin dengan maksud untuk memudahkan anak-anak bermain, jadi tak perlu sampai keluar panti. Benar saja, di dalam panti itu masih banyak beberapa perabotan jaman dulu, contohnya kursi goyang, guci jaman dulu, replica pistol besar, dan beberapa benda lain.
Setelh mempersilahkan Dinda duduk, Ibu yang tadi membukakannya pintu, masuk untuk memanggil anak-anak.Tak lama, wajah lucu anak-anak itu muncul.Spontan Dinda langsung berdiri untuk menyambut anak-anak itu. Setelah memperkenalkan diri, Dinda langsung membagikan coklat yang ia bawa. Syukurlah coklat itu ternyata cukup untuk anak-anak panti itu. Benar kata Dina, membagi kebahagiaan bersama orang lain itu menyenangkan. Kini, Dinda sendiri yang merasakannya.
Usai bergurau dan mengucapkan terima kasih pada pengasuh panti asuhan itu, Dinda pamit untuk pulang.Sepanjang perjalanan, senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Dan ia siap untuk kembali melakukan kebaikan.
* * *
                Hari ini hari minggu, jadi Dinda tak perlu menunggu waktu pulang sekolah untuk kembali melakukan kebaikan.Hari ini adalah jadwal Dinda ke rumah sakit, lebih tepatnya ke ruang yang khusus untuk orang yang terkena penyakit kanker seperti Dina.Ketika Dinda membaca lembaran kebaikan Dina selanjutnya, Dinda tau bahwa tempat yang dimaksud oleh Dina adalah rumah sakit tempatnya dulu dirawat, juga tempat dimana nyawanya direnggut. Ketika masih hidup Dina pernah meminta Dinda untuk menemaninya ke suatu tempat yang ternyata adalah rumah sakit.Dina tak mengizinkan Dinda untuk ikut masuk. Dan sekarang Dinda tau apa yang dilakukan Dina waktu itu. Dina ingin agar Dinda tak mengetahui niat baiknya.Namun kini semua terbongkar melalui buku harian Dina.
                 Dinda menyusuri koridor rumah sakit sambil celingak celinguk mencari papan nama yg bertuliskan ruang khusus penyakit kanker. Lelah berjalan, Dinda memutuskan untuk bertanya pada receptionis. “lurus aja mbak, nanti belok kiri, sebelahnya kamar mayat, nah itu ruangannya,” jawab receptionis itu. Setelah berterima kasih, Dinda pun langsung menuju ke ruang yang dimaksud.
                Pelan-pelan, Dinda membuka pintu itu. Di dalam sana banyak terdapat orang-orang yang mungkin sebayanya, ada juga orang sudah sangat tua, bahkan anak kecil pun juga ada. Bukan, itu bukan tempat mereka tidur, tapi itu adalah tempat mereka bermain atau sekedar berbicara pada orang senasibnya.Beberapa dari mereka ada yang kepalanya telah botak, ada juga beberapa yang rambutnya tipis, mungkin akibat rontok. Hari in jadwalnya untuk bernyanyi didepan mereka semua dan membagikan beberapa balon. Karna memang telah terbukti bahwa balon dan music dapat mengembalikan mood. Tadi Dinda sempat bertemu dengan dokter yg dulu menangani Dina saat masih hidup untuk meminta izin menghibur orang-orang yg terkena penyakit kanker seperti Dina. Dokter itu tentu saja mengiznkanya. Dokter itu masih mengenali Dinda, karena Dinda lah satu-satunya orang yg sempat-sempatnya membacakan pelajaran yg diajarkan hari itu kepada Dina ketika Dina dalam keadaan koma. Waktu itu Dinda beranggapan bahwa orang koma itu sebenarnya dapat melihat apa yg kita lakukan, mendengar apa yg kita bicarakan, karena hanya tubuhnya lah yg tergolek lemah, namun roh nya berada di sekitar kita.
                Dinda masu ke dalam ruangan khusus penderita kanker dengan gugup mesipun ia ditemani oleh suster. Tak ada yg memperhatikan Dinda. Dan seketika rasa gugup Dinda berubah menjadi iba. Betapa merananya mereka. Di balik senyum dan tawa merekaa, ada ketakutan yg sangat mendalam, takut meninggal mungkin, entahlah.
                Dindapun mendekati seorang nenek tak seberapa tua, dengan rambut gundulnya. Ia menyapa nenek tua itu dengan senyum yg sangat dipaksakan, bagaimana mungkin ia dapat tersenyum di tengah orang-orang yg menderita seperti itu. namun ia tetap menahan tangisnya, ia mengingat kata dokter ketika Dina masih hidup, bahwa sesungguhnya para pengidap kanker tak butuh airmata kasihan kita, ia tak suka dikasihani, ia hanya ingin kita mengerti yg mereka rasakan, karna setiap orang ingin dimenerti, pun mereka para pengidap kanker itu.
                “apa kabar nek?” tanya Dinda basa-basi. Yg ditanya hanya tersenyum sambil melihat kea rah luar jendela. Nenek itu duduk diatas kursi rodanya dengan suster yg mengawasi nenek itu.
                “nenek mau balon? Nih aku punya balon banyak. Nenek mau warna apa?” tanya Dinda lagi. Nenek itu memerhatikan Dinda, kemudian mengangguk. Dinda pun memberikan balon warna kuning yg sedari tadi digenggamnya.
                “terimakasih, nak,” ujar nenek itu.
                “nyanyi yuk nek, nenek kuat nyanyi kan? Kita nyanyi balonku sama-sama,” lagi-lagi nenek itu mengangguk dan menyiapkan tangannya untuk bertepuk tangan mengiringi lagu.
                Dinda pun meminta suster yg menemaninya tadi untuk membagikan balon kepada semua pasien di dalam ruangan itu. setelah semua memegang satu balon dalam genggaman masing-masing, perlahan Dinda melantunkan lagu balonku, awalnya hanya suaranya saja yg terdengar, naun sayup-sayup terdengar suster yg masing-masing menemani pasien mereka ikut bernyanyi, semua pasien ikut bertepuk tangan seperti yg nenek lakukan lalu ikut menyanyi pula. Kini dalam satu ruangan itu ikut bernyanyi balonku bersama. Air mata yg tak bisa dibendung itu menetes. Betapa terharunya Dinda melihat kebersamaan mereka. Ia pun memeluk seorang anak kecil yg sedang bermain boneka di atas karpet lalu memangkunya, dan terus mengulang lagu balonku hingga waktu mereka istirahat habis.
                Sebelum semua pasien kembali ke kamar masing-masing, tanpa di duga nenek itu menghampiri Dinda yg masih memangku anak kecil, lalu memeluknya sangat erat. Lalu seketika semua pasien itu ikut memeluk Dinda. ‘Oh Tuhan, andai waktu dapat terhenti, biarkan aku dalam kedaan seperti ini, dalam dekapan erat mereka,’ do’a Dinda sambil meneteskan air mata
                Keluar dari ruangan itu, Dinda mendapati dokter berdiri di samping pintu.

                “sungguh, sifatmu dan sifat Dina sangatlah mirip. Saya benar-benar terharu melihat kejadian tadi. Sama seperti ketika aku melihat Dina melakukannya pada pasien yg serupa oleh Dina waktu itu. semoga saja nasib hidupmu tak semalang Dina ya,” kata doter itu sambil menepuk pundak Dinda lalu kembali pergi. Dinda berdiri terdiam, merenungi kata-kata dokter yg terakhir, tentang  “nasib hidup semalang Dina”. Namun lekas-lekas Dinda menghapus pikiran buruk itu dan bergegas pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar