Minggu, 16 Desember 2012

Merry Birthday (08-12-12) part IV

to be continued...

puas bersenang-senang di dalam ruangan karaoke, kami kembali menyusuri stingers, mencari wahana baru untuk dikunjungi. dan memilih untuk bermain ke wahana bom-bom car. aku, ima dan adiknya, dina, risma, merry dan pacarnya, berbondong-bondong menaiki wahana tersebut. setelah memilih 'mobil' mana yg mau dinaiki, kami semua mengenakan selt belt dan siap meluncur dengan 'mobil'nya masing-masing. karena bawah 'mobil' itu terbuat dari ban karet, kami pun dengan santai menabrakkan 'mobil' kami dengan 'mobil' org lain, setelah terjadi pertabrakan, kami malah tertawa-tawa. lalu dengan sengaja membuat kemacetan di tengah-tengah area wahana bom-bom car tersebut. saat waktu permainan bom-bom car tersebut habis, 'mobil' kami pun otomatis terhenti. kami semua mengeluh, masih ingin bermain. tapi tetap harus beranjak dari tempat.

puas bermain, kami beranjak dari stingers, ingin berjalan-jalan menyusuri TP. tujuan kami setelah keluar dari stingers adalah membeli jus strawberry yg menurut ima, sangat enak. sambil menunggu antri yg panjang, kami kembali memutuskan untuk berfoto-foto di tengah-tengah keramaian orang mengantri dan lalu lalang, tapi kami mengabaikannya.
keren ya..
setelah membeli minum dan duduk-duduk di foodcourt sebentar, kami kembali menuju ke stingers untuk mencari merry, adiknya, dan pacarnya yg menghilang setelah keluar dari wahana bom-bom car. setelah bertemu dengan merry cs, mereka bilang memutuskan untuk berpisah, karena teman merry yg lain datang. aku, dina, risma, ima, mamanya, dan adiknya memutuskan untuk naik ke lantai 7, lantai paling atas, yg konon katanya bagus untuk dijadikan tempat foto-foto.
you see? so beautiful right?
baru mengambil beberapa jepret, salah satu penjaga menghampiri kami. "maaf, gak bisa foto di sini bila belum ada izin" kata penjaga itu. kami pun beranjak dari tempat itu. namun, masih sempat-sempatnya untuk mengambil foto disaat-saat kami sedang diusir seperti itu.
keren ya..
usai mengambil beberapa foto sambil diam-diam. kami pun beranjak turun untuk bergabung bersama teman-teman merry. namun yg terjadi adalah, kami malah kembali ke tempat karaoke. kali ini hanya menyanyikan 2 lagu yg terdiri dari lagu butiran debu-nya rumor dan part of me-nya katy perri. usai puas bernyanyi, kami menemui merry dan teman-temannya. bersalaman, berkenalan, senyum ramah, foto-foto, setelah semua itu berlalu, aku, dina, dan risma memutuskan untuk pulang mengingat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih, kami bertiga langsung melesat mencari taxi.

but, over all, aku bener-bener seneeeng banget. you know guys, aku bisa tertawa puas kayak gitu cuman sama ima, dina, risma, dan merry doang. thanks guys, laflaflaf:-----***

Merry Birthday (08-12-12) part III

to be continued...

turun dari wahan galleon, masih dengan kepala yg berputar, kami berjalan menyusuri stingers dengan cerita dan tawa ceria. wahana selanjutnya yg kami pilih adalah karaoke. setelah merampas beberapa koin dari pacar merry yg baru saja membeli koin, kami pun beranjak ke tempat karaoke. aku dan risma langsung merampas 2 mic yg bertengger di samping meja yg atasnya terletak televisi yg biasa terderet lirik lagu yg kami nyanyikan. sedangkan ima dan dina membolak-balik buku daftar lagu, memilih lagu yg pas. merry? jangan tanya dia, dia sedang asyik dengan pacarnya.
badan besar ima menutupiku-_-

"a thousand years!" pekikku sambil menunjuk judul lagu yg sudah tak asing di telinga orang-orang. anak-anak mengangguk. dan satu lagu telah dipilih. ima memasukkan 3 koin untuk satu lagu, sedangkan aku menekan tombol kode lagu. sebelum lagu a thousand years itu melantunkan liriknya, aku dan risma, penguasa mic itu mengambil ancang-ancang untuk berpose, dan, klik.
muka-muka calon penyanyi
setelah menekan tombol enter, lantunan lagu a thousand years pun mengalun. dan kegalauan pun memenuhi ruangan. lagu a thousand years habis, kami semua menghela nafas. lalu kembali memilih lagu. aku menunjuk satu judul lagu, lagu galau. anak-anak langsung melotot padaku, "fir, lo galau? daritadi milih lagunya galau mulu. kita nih mau seneng-seneng, udah deh," kata ima. aku pun mengalah, aku gak boleh mengganggu kebahagiaan hari ini. dan lagu kedua yg kami pilih pun jatuh pada lagu price tag dari jessie j. setelah memasukkan 3 koin lagi, kami menekan kode lagu dan menekan tombol enter. aku menyerahkan mic ku pada ima yg langsung bernyanyi seperti cacing kepanasan. risma dan aku kembali bersiap-siap untuk berpose. dan, klik.
agak lebur karna kebanyakan goyang._.
di tengah-tengah lagu price tag berlantun, merry datang ikut bergabung. kami pun berencana untuk membuat video agar bisa dikenang. setiap lagu yg kami nyanyikan, sudah terekam dalam video. mulai dari lagu price tag, call me maybe, sampai lagu lazy song. dalam video itu, tawa tak pernah lepas dari bibir kami. benar-benar merasakan kebahagiaan yg memuncak.

continued...

Jumat, 14 Desember 2012

Merry Birthday (08-12-12) part II

to be continued...

risma dan dina langsung megiyakan rencanaku untuk mengendarai mobil ke TP. usai siap-siap, dina dan risma berkumpul di rumahku. setelah membeli lilin ulang tahun dan korek di indomaret sebelah kampung, kami langsung menuju salah satu toko coklat langganan keluargaku, "Dapur Coklat" bersama mama dan ical pastinya. setelah bertanya harga dan memilih roti yg ingin dibeli, kami pun melesat menuju TP.
"mama gak jadi ke PGS deh" ucap mama.
"kenapa ma?" tanyaku.
"kita makan di TP aja ya, cal" kata mama pada ical.
"iya, makan pizza ya" kata ical di balik kemudi.
"huft, enakin aja kencan berdua" ucapku. seisi mobil tertawa melihatku dongkol seperti itu. tiba di TP, aku, dina, dan risma di turunkan di lantai 2, lalu mama dan ical pergi untuk mencari tempat parkir.

"ima dimana? takutnya nanti kita ke foodcourt, eh merry juga ke foodcourt, ketemu dong" kata dina.
"iya bentar aku tanyain" kata risma. setelah melewati perdebatan yg cukup panjang, kami memilih untuk menunggu di depan permainan stingers lantai 5 dan menyuruh ima untuk menemui kami sebentar. sungguh perjuangan yg sangat besar, karna untuk berjalan pun kami harus ekstra hati-hati. kami memilih untuk menyusun lilin di dalam stingers, agar merry tak dapat melihatnya. aku membawa roti beserta lilin lengkap dengan apinya yg menyala, sedangkan ima berada di depan, menuntun kami ke tempat merry dan mamanya duduk. dari arah belakang, sudah terlihat merry dan mamanya sedang asyik bercerita dengan tangan menggapai-gapai udara seperti memeragakan sesuatu. dengan gerakan hati-hati, ima menutup mata merry, risma berdiri di sebelah kanan ima, sedangkan dina berada di sebelahku. aku menyerahkan roti itu kepada mama merry, karena menurutku aku tak berhak memberikan roti itu langsung kepada merry, mamanya lah yg lebih berhak.

ima akhinya melepaskan tangannya dari mata merry. dan, tarrrraaaaa, mata merry terbeliak, membulat karena terkejut. lantunan lagu selamat ulang tahun terdengar beberapa saat kemudian. merry mengelap matanya yg basah oleh air mata. air mata terharu. ah, betapa bahagianya kami menjadi org pertama yg membuat merry terharu.
"tiup lilinnya... tiup lilinnya... tiup lilinnya sekarang juga, sekarang jugaaa, sekarang jugaa..."
dan, fiuuuuh, api dari lilin di atas roti itu pun padam.
fiuuuh.. 
kami semua bertepuk tangan. orang-orang yg berada di foodcourt itu serempak menolehkan wajahnya ke arah kami, sumber keributan sore itu. tawa bahagia menghias bibir kami saat itu. usai bertepuk tangan, kami pun mengambil pose untuk berfoto.
itu aku, yg jilbab biru;;)
"mer, pacarmu gak dateng?" tanyaku pada merry usai melihat hasil jepretan foto kami.
"enggak, dia ke jakarta" jawab merry.
"yah sayang dong" ucapku sok khawatir. namun, usai aku menyelesaikan percakapan itu, satu kejutan lagi datang untuk merry. pacarnya datang dengan membawa roti dari toko yg sama, "Dapur Coklat" dan juga membawa satu kresek besar, entah apa isinya. merry sekali lagi dibuat terperangah. senyum bahagia terukir dari wajahnya. pacarnya menyerahkan roti itu pada merry, lalu duduk di sampingnya. lantunan lagu tiup lilin pun kembali terdengar. dan, fiuuuh, api dari lilin di atas roti itu kembali padam.
fiuuuuh... 
kami kembali bertepuk tangan. lalu mengambil posisi duduk masing-masing. senyum masih menggantung dibibir merry. bisa kurasakan, bagaimana bahagianya merry di hari ulang taunnya yg ke-17 ini. setelah bercerita, makan, dan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan. tujuan kami selanjutnya adalah tempat bermain "Stingers". dina dan risma daritadi ingin sekali bermain galleon, atau yg biasa disebut dragon ball. usai membeli tiket, aku, ima, dina, dan risma langsung menuju wahana galleon. merry sebagai fotografer saat kami menaiki wahana tersebut. tegang, senang, takut, bahagia, bercampur jadi satu saat menaiki wahana tersebut. kira-kira seperti gambar di bawah ini ekspresi kami.
konyol haha =)))
continued...

Kamis, 13 Desember 2012

Merry birthday (08-12-12) part I

dret...dret..

handphoneku bergetar dua kali. aku meliriknya sekilas, ada 1 bbm. aku membukanya. ternyata ada satu multichat yg terdiri dari ima, dina, risma, nadira, dan haifa', para anggota dari pasukan minggu yg sempat dibahas do blog berjudul 'Aku dan Nenek part I'. sebenernya, haifa' dan nadira bukan termasuk pasukan minggu, mereka berdua adalah playmate kami.
"besok mau ikut ngasih kejutan buat merry gak?" satu chat dari ima masuk dalam multichat itu. ima adalah kakak dari merry yg juga anggota pasukan minggu. kabarnya, merry berulang tahun pada tanggal 08-12-12. sejak minggu kemarin ima sudah menyusun semua rencana untuk memberi surprise pada merry. aku, dina, dan risma serempak menjawab, "mauuu". sedangkan haifa'tidak bisa ikut, karena dia memiliki acara pada hari itu. nadira? jangan tanya dia, dia orang selalu berkata 'tidak bisa' bila kami mengajaknya.

rencana pun disusun. rencananya, besok ima, merry, mama, dan adiknya akan jalan-jalan ke Tunjungan Plaza (TP) setelah dhuhur. aku, dina, dan risma akan menyusul bila mereka telah tiba di TP tanpa sepengetahuan merry tentunya. setelah semua setuju, kami pun tinggal menunggu waktu yg ditentukan. tanggal 07-12-12 pukul 00.00 tepat aku mengirim rentetan ucapan selamat ulang tahun untuk merry. 5 menit berlalu, tulisan D di atas simbol centang itu tak kunjung berubah menjadi R. satu bbm masuk, dari ima. dia mengirim foto merry yg telah di edit dengan sangat kacau.
 
what do you think?
what do you think?

aku tertawa melihat foto itu. lalu kutanyakan, mengapa merry tak membalas bbmku. dan ternyata merry tertidur. aku pun menghela nafas, 'percuma' batinku. tak lama, ima kembali mengirimiku foto merry yg diedit.
apa lo liat-liat?



aku kembali tertawa. ima memang pandai mengedit foto dengan segala macam cara. bahkan ima pernah mengedit fotoku menjadi hantu juga diedit menjadi tante-tante dengan blushon dan lipstik yg sangat menyala, lalu dijadikan foto di bbm, betapa malunya aku waktu itu.
usai menjadikan foto editan itu menjadi foto profil ku di bbm, aku langsung tertidur, karena menahan kantuk daritadi hanya untuk menjadi orang pertama yg mengucapkan ulang tahun kepada merry.

esok paginya, aku terbangun pukul 8 pagi. aku lupa, aku belum meminta izin pada mama untuk memberi kejutan pada merry di TP. dengan takut-takut aku mencoba berbicara pada mama. namun hingga pukul 9, aku belum berbicara apa-apa pada mama. jam 10, aku mencoba memberanikan diri untuk mengajak mama berbicara.
"hmm, ma..." kataku menggantung.
"apa?" jawab mama sambil menatapku. aku menelan ludah.
"hmm, anu. mama tau merry? ituloh yg biasanya gowes sama aku kalo hari minggu," kataku mencoba membuka percakapan.
"gak tau. yg mana?" tanya mama balik, heran.
"ituloh ma, adiknya ima, ima yg temen SD nya ical dulu" kataku mencoba menjelaskan.
"oh iyaiya, kenapa sama merry?" tanya mama lagi.
"dia hari ini ulang tahun ma. terus, aku, ima, dina, risma nyusun rencana mau ngasih kejutan ke merry di TP. terus, bla...bla...bla" aku menjelaskan semua rencana kejutan itu pada mama. mama mengangguk-ngangguk kecil.
"iya udah, ikut aja. dianter ical ta? mama juga mau ke PGS ini. jadi sekalian, mumpung mobil yg satunya nganggur" kata mama. aku langsung mengiyakan tawaran mama dan langsung menyampaikannya pada dina dan risma.

continued...

Rabu, 12 Desember 2012

Aku dan Nenek part VI

continued...

prosesi pemandian dilakukan usai adzan dhuhur. aku bisa melihat jelas prosesi pemandian jenazah nenekku. dengan sangat jelas. bagaimana orang-orang itu mengguyurkan air dengan sangat kasar ke jenazah nenek. bagaimana orang-orang itu dengan sangat kasar pula menggosok dan membalikkan jenazah nenek. aku sungguh tak tega melihatnya. aku berpindah tempat dari barisan depan menuju tangga berputar di dekat tempat jenazah nenek dimandikan. setidaknya aku tidak terlalu jelas melihat jenazah nenek yg diperlakukan secara buruk oleh orang-orang itu. aku sering mendengar, bahwa sesungguhnya bila orang yg baru saja meninggal itu masih bisa merasakan sakitnya ketika nyawanya dicabut. bahkan, saat memandikan jenazah pun harus dengan sangat hati-hati, karna sesungguhnya tanpa bisa kita lihat dengan mata kepala kita, jenazah itu masih berlumuran darah dan diterkam dengan rasa sakit yg mendalam. namun orang-orang itu memandikan jenazah nenek dengan sangat buruk.

usai dimandikan, jenazah nenek dibalut dengan kain putih tipis baru kemudian dibungkus dengan kain kafan. jenazah nenek selanjutnya dibawa ke ruang tamu untuk di sholati salah satu imam yg biasa dipakai untuk menyolati mayat. setelah itu, papa menyuruh semua anak, cucu, dan keluarga dekat lain untuk mencium jenazah nenek sebelum disholati. aku mencium jenazah nenek dengan genangan air mata yg siap tumpah. lalu dibacakan sedikit do'a pendek sebelum papa menaburkan parfum yg dibawakan oleh habib kemarin malam .barulah jenazah nenek dibawa ke masjid untuk disholati oleh para keluarga dan tetangga. sholat dhuhur dilakukan bersamaan dengan sholat jenazah. aku dan keluargaku memilih untuk langsung menuju lokasi pemakaman yg tidak jauh dari rumah. jenazahnya lebih dulu tiba dibandingkan keluargaku. orang-orang mengerubungi lubang kuburan itu. aku berusaha sekuat tenaga untuk menerobos sekerumunan orang. hingga akhirnya aku berhasil berada tepat disamping lubang kuburan.

setelah lubang sudah cukup dalam, jenazah nenek dimasukkan ke lubang kuburan dengan sangat hati-hati. aku bisa menyaksikan jelas bagaimana jenazah nenek dimasukkan ke dalam lubang itu. lubang itu sangat dalam dan pastinya sangat gelap. lalu bagaimana bila malam hari? sedangkan siang begini saja lubang kuburan itu sudah terlihat suram. aku memikirkan, bagaimana sepinya nenek berada di dalam sana sendirian. menikmati malam demi malam dengan keadaan gelap dan sendiri. oh tuhan, andai aku bisa menemaninya. kemudian aku memerhatikan sekeliling, memerhatikan wajah-wajah orang tua yg terlihat khawatir. mungkin mereka takut, karena setelah ini akan mengalami hal yg di alami nenek. tak bisa dipungkiri, semua orang akan mati, dan semua orang takut kematian. begitupun aku. mungkin juga nenek.

lubang kuburan itu ditutup diselingi bacaan sholawat. kemudian membaca do'a yg dipimpin oleh ustad yg biasa memimpin do'a bila ada acara. usai membaca do'a, para tetangga pulang. kini tinggallah kami, keluarga dan kerabat dekat saja. papa duduk jongkok di samping kuburan nenek. mengelus-elus batu nisan yg berdiri tegak diatas tanah liang lahat itu. kemudian mengambil air zamzam dan menyiramkannya diatas kuburan nenek. lalu menyerahkan air zamzam itu ke kerabat yg lain. setelah menyiram air, papa kembali memimpin do'a untuk nenek. dan membacakan al-fatihah sebagai makanan nenek di alam sana. selesai, kami pun pulang.

tiba di rumah, kami semua langsung menuju meja yg berisi makanan. karena belum sempat sarapan, porsi makan siang pun menjadi 2x lipat. aku dan beberapa saudaraku makan dengan membuat lingkaran kecil sambil bercerita tentang runtutan kejadian hari ini. usai makan, kami pun terkulai lemas di atas kasur, kelelahan. malamnya, beberapa kerabat memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. papa mengurus pembelian tiket pulang untukku, kiki, ical, dan ichsan. dan memutuskan untuk pulang kembali ke surabaya pada sore esok harinya.

finally, besok siang kami semua sudah siap menuju bandara di makassar. perjalanan menuju makassar kini terasa hambar. biasanya nenek yg paling sedih bila keluargaku kembali ke surabaya. nenek selalu merasa kesepian di masa tua-tuanya. dan kini, bahkan di akhir hayatnya, nenek juga merasa kesepian, di dalam lubang itu.

selamat tinggal makassar, selamat tinggal nenek, tenanglah disana nek. disini, meski di dunia yg berbeda, firda akan selalu mendoakan nenek. we love you nek, together :')

TAMAT.

Selasa, 11 Desember 2012

Aku dan Nenek part IV

continued...

aku, kiki, ichsan, dan ical mendapat kursi bagian belakang sedangkan mama dan papa berada jauh di depan. mungkin karena perbedaan waktu ketika membeli tiket. tak apa, yg penting kami mendapat tiket malam itu juga. selanjutnya, waktu demi waktu yg kulewati di atas udara seolah sangat lama. aku duduk dengan gerakan gelisah. tak sabar ingin cepat sampai tujuan. aku meraih headset dan mencoba menenggelamkan pikiran ke dalam lagu-agu yg berputar. aku mencoba memejamkan mata, tapi seolah ada perekat di kelopak mataku yg membuatku tetap terjaga. 2 jam berada di atas udara, akhirnya pramugari itu mengumumkan melalu microfon bahwa pesawat telah tiba di bandara sultan hasanuddin. aku buru-buru menegakkan posisi dudukku yg mulanya hampir merosot ke bawah. andai saja waktu itu aku tidak ditahan oleh selt belt, pasti aku sudah berlari menuju pintu pesawat dan menunggunya untuk dibuka. 5 menit berlalu, pesawat sudah berhenti sempurna. pintu pesawat pun telah dibuka. orang-orang berdesakan untuk keluar. jika ical tak menarikku untuk tetap sabar menunggu desakan itu sedikit lengang, aku pasti sudah berada di antara orang-orang yg berdesakan itu.

usai turun dari pesawat dan menaiki bus untuk menuju gedung bandara, tujuan utamaku adalah kamar mandi. karena terlalu gugup dan gelisah, disertai udara dingin dari pesawat, aku tak tahan untuk buang air kecil. keluar dari kamar mandi, barang bawaanku yg masuk bagasi telah diambil, karena hanya satu koper, jadi tak butuh waktu lama untuk mengambil barang. nenek dari mama, yg biasa di panggil nenek caca sudah menunggu untuk menjemput keluargaku. nenek caca datang bersama sepupuku bernama kakak jeva. melihat rombongan keluarga kami keluar dari pintu gedung utama bandara, nenek caca langsung memeluk mama dan papa secara bergantian. sambil menangis, nenek caca terus berkata "ummi mu sudah gak ada" pada mama dan papa. tuhan, betapa aku ingin menjerit, "aku tau, aku mohon jangan menangis, jangan bersedih, nenek pasti ada di alam sana", tapi aku hanya menelan kembali kata-kata itu.

setelah menyewa mobil dan sopir untuk mengantar kami menuju desa tempat kediaman nenek, kami langsung melesat. dalam perjalanan, nenek caca, kak jeva, mama, dan papa tak henti-hentinya bercerita menggunakan bahasa bugis yg aku tak tau artinya. percakapan itu berhenti ketika mobil berhenti di depan minimarket yg buka 24jam. aku melirik jam, pukul set 12. perjalanan dari makassar menuju desaku lumayan lama, mungkin aku tiba disana ketika pukul 2 pagi. papa yg memutuskan untuk memasuki minimarkte itu kembali dengan membawa dua kresek besar berisi camilan. mungkin beliau memiliki inisiatif, perjalanan panjang akan melelahkan dan membuat lapar, maka dari itu beliau membeli banyak camilan untuk dimakan di dalam mobil.

prediksiku benar, aku tiba di desa pukul 2 pagi kurang 15 menit. halaman depan rumahku yg luas itu di penuhi oleh para tetangga. papa termasuk orang yg di hormati di kampung nenekku itu. karena mendiang almarhum kakekku adalah orang yg tersohor pula di kampung itu. saat itu hanya kedatangan keluarga dari papaku lah yg ditunggu, karena papa termasuk anak kesayangan dari nenekku.

aku memasuki rumah dengan jantung yg berdegup kencang. dari ujung pintu sudah terlihat mayat nenek tergeletak lemah ditutupi kain sarung. oh tuhan, aku tak mampu menahan tangisku, airmata langsung mengalir deras di pipiku. aku meletakkan tas kecilku yg kusampirkan di lengan ke lantai lalu duduk terkulai lemas di samping mayat nenek. keluargaku yg tadinya terlelap, kini terbangun ketika mengetahui keluargaku telah tiba. tante nana, anak pertama dari nenekku, membuka selendang putih yg menutupi separuh wajah nenek. aku menatap wajah tenang nenek. wajahnya benar-benar pucat. kerutan di wajahnya terlihat jelas. mulutnya terkatup rapat. betapa ingin aku teriak di telinganya "bangun lah nek, kumohon, bangunlah" namun apa daya, membuka mulutku pun aku tak sanggup. papa menyuruhku untuk mencium pipi nenek, ada sedikit rasa takut dan ragu, namun aku tetap harus mencium nenek, untuk yg terakhir kalinya. kurasakan bibirku menyentuh pipi nenek yg sangat dingin. ingin aku memeluknya, memberi kehangatan padanya, namun percuma, hal itu tak akan membuat nenek bangkit kembali. aku menyadari satu hal, nenek telah pergi untuk selamanya.

setelah bercerita sedikit dengan keluargaku, aku menuju kamar mama yg berada di lantai atas. aku belum berani tidur sendirian di kamar, karena keadaan yg seperti ini. aku menerima beberapa bbm dari teman-temanku yg mengucapkan turut berduka cita. aku membalasnya dengan ucapan terima kasih. waktu terus bergulir, menunjukkan pukul 4 pagi, disaat itu pula mataku baru bisa terpejam. merasakan kelelahan yg sangat mendalam. esok paginya, aku terbangun pukul 8 pagi. setelah mandi dan bersiap-siap, aku menuruni tangga. di bawah sudah banyak tetangga yg memenuhi rumah. semua saudara juga sudah berkumpul. aku segera bergabung bersama mereka. hari ini adalah proses pemandian dan pemakaman nenek.

to be continued...

Aku dan Nenek part III

continued...

ketika ingin membuka pintu mobil, kiki memekikkan satu nama "ichsan.." ucapnya lirih. mama langsung menoleh, menyadari bahwa tidak ada ichsan disitu. tanpa menunggu waktu lama, mama berlari kembali menuju ruko untuk mencari ichsan. ketika mama kembali, tangannya kosong, tanpa ada tangan kecil ichsan yg biasa menggandeng tangan mama. "ichsan sudah ikut sama Om Ipin, pulang duluan" ucap mama dengan nafas yg memburu. aku dan kiki menghela nafs lega lalu memasuki mobil. aku melirik jam di handphone ku, pukul 8 malam. semua kejadian ini hanya berlangsung selama setengah jam sejak mama mendapat kabar bahwa nenek benar-benar sekarat. benar-benar waktu yg singkat, namun terasa begitu lama, dunia serasa berhenti.

tiba di depan kampung, kami semua berjalan cepat menuju rumah. mengabaikan setiap pertanyaan tetangga yg menanyakan hal yg sama "ada apa?". kuharap mereka bisa maklum. tiba di rumah, kami bergegas menaiki tangga dan menuju kamar masing-masing untuk menyiapkan pakaian masing-masing. "bawa baju dua aja, baju buat pulang sama baju tidur. pakaian dalam gak usah banyak-banyak. dijadiin satu aja di kopernya firda" mama memberi aba-aba sambil menyiapkan baju untuk papa dan ichsan. sedang aku dan kiki sibuk dengan urusannya masing-masing. urusan baju selesai, kami bergegas turun. "telpon ical, suruh cepet pulang" kata mama. kiki meraih handphonenya dan menelpon ical, kakak laki-lakiku. setelah memberi tahu semua kejadian dengan suara yg serak oleh tangis, kiki meletakkan kembali handphonenya kedalam saku celana.

tak lama, ical pun tiba dan langsung membereskan pakaian yg akan dibawanya. para tetangga kini memenuhi ruang tamu rumahku. usai menjawab semua pertanyaan para tetangga dengan jawaban yg sama, kami bergegas keluar. Habib datang dengan membawa tas tenteng besar yg berisi air zam-zam, minyak wangi, dan potongan kayu yg entah apa namanya. usai ical merapikan barang bawaanya, kami menuju mobil Pak Arifin. di tengah jalan menuju mobil, mama menyuruh kiki dan ical mencari ichsan. karena tak punya waktu banyak, aku, mama, papa, dan pak arifin menuju mobil terlebih dahulu, sedangkan ical, kiki, ichsan, dan Habib menyusul menggunakan mobil yg dibawa oleh om ku.

selama beberapa menit di jalan, kami semua terdiam. hingga papa memecah keheningan, "hapeku mana?" kata beliau sambil merogoh-rogoh kantong. "loh, hape yg mana?" tanya mama. maklum, hape papa memang ada 4, mungkin untuk urusan kerjanya. "yg nokia" kata papa sambil tetap mencoba merogoh-rogoh kantongnya. mama meraih handphone nya dan langsung mencoba menelpon nomer yg ada di handphone nokia papa.

"..gak aktif" ucap mama pelan-pelan.
"wah, sudah hilang berarti" kata Pak Arifin, nyeletuk.
"yasudah, nanti aja dicari" kata papa kemudian. mungkin beliau lebih mementingkan bagaimana caranya untuk mendapatkan 4 tiket pesawat malam itu juga. waktu berjalan, kami lalui dengan diam. tak ada yg berbicara dalam mobil itu. mungkin lebh sibuk oleh pikiran masing-masing. akupun sibuk dengan pikiranku sendiri. entah apa yg kupikirkan. sedang airmata tak mau henti-hentinya mengalir. aku melirik mama yg duduk di sebelah ku dan papa yg duduk di sebelah pak arifin yg mengendalikan kemudi secara bergantian. hari ini hari anniversary pernikahan mama dan papa, sekaligus aan menjadi hari meninggalnya nenek. airmataku semakin deras mengalir ketika mengingat hal itu.

tiba di bandara, papa bergegas menuju loket untuk mencari tiket. aku mengambil trolley yg akan mengangkut barang bawaan kami. mama checkin terlebih dahulu karena ada yg harus diurus di dalam. tinggallah aku dan pak arifin berdiri termenung memerhatikan orang lalu lalang. orang-orang itu datang dengan ekspresi yg berbeda-beda. ada yg wajahnya gembira, mungkin mereka akan pergi berlibut. ada yg wajahnya sedih, aku kira mungkin mereka mengalami hal serupa yg sama denganku. ada juga orang dengan wajah datar, wajah-wajah yg bosan menunggu. entahlah, aku tak tau betul apa yg ada dipikiran mereka. aku memerhatikan badanku, astaga, aku lupa bahwa aku masih mengenakan dress. pantas ada yg gak enak dengan caraku berjalan. mungkin karena tadi terlalu buru-buru hingga lupa mengganti pakaian. "sms ical, bilang kalo papa sudah dapet tiket malam ini," papa datang membuyarkan lamunanku. aku mengambil handphone ku di tas, dan mengetikkan sms persis seperti yg dikatakan papa dan mengirimnya ke ical.

15 menit kemudian, mobil yg dinaiki ical, kiki, ichsan, dan habib tiba di bandara. kiki dan ical langsung melesat menuju minimarket untuk membeli minuman. sedangkan aku mengganti pakaian dengan yg lebih santai di kamar mandi. setelah kembali dari kamar mandi, semua orang sudah lengkap berkumpul, papa, kiki, ical, ichsan, habib, pak arifin, juga mama yg telah kembali dari urusannya di dalam tadi. papa menyuruhku, kiki, ical, ichsan dan mama untuk check in duluan, karna ada yg harus  papa, habib, dan pak arifin bicarakan. kami pun meninggalkan papa, habib, dan pak arifin berbicara. usai check in dan memasukkan barang ke bagasi, papa datang. kami pun menuju ke ruang tunggu. tak butuh waktu lama, kami sudah dipanggil untuk segera memasuki pesawat. betapa beruntungnya keluarga ku karena pesawat yg kami tumpangi tak mengalami  delay.

kulalui waktu demi waktu di dalam pesawat dengan perasaan cemas, seolah pesawat itu berjalan dengan sangat lambat

to be continued...

Sabtu, 08 Desember 2012

Aku dan Nenek part II

continued..

acara di mulai sebelum adzan maghrib berkumandang. tamu yg mayoritas pria itu membaca sholawat dan ratib yg dipimpin oleh ustad yg disewa oleh papa. kami, para kaum hawa ditempatkan di lantai atas ruko kami. ya, acara ini berlangsung di ruko milik perusahaan yg papa bangun. usai membaca ratib, adzan maghrib berkumandang. para kaum adam itu pun bergegas mengambil air wudhu, berebut tak ingin didahului. usai sholat maghrib, dilanjutkan dengan makan. papa memesan cathering di restoran langganan keluarga kami. aku menghampiri mama yg telah datang dari membeli tiket.

"dapet tiket jam berapa?" tanyaku memotong pembicaraan mama dengan salah satu karyawati papa.
"jam 9"
"aku ikut nganter ke bandara ya"
"iya, ikuto" jawab mama melirik sekilas ke arahku.

jam setengah 8, mama telah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, untuk packing pakaian yg akan dibawa ke makassar. mama menuruni tangga, disusul olehku dan kakak perempuanku bernama kiki. ketika mencapai di tengah-tengah tangga, mama mendapat satu panggilan telpon. aku meliriknya, dari Tante Isa, tanteku dari keluarga papa. mama mengangkatnya. di tengah-tengah percakapan, suara mama menjadi bergetar, seolah menahan tangis. tak lama, air mata bergulir di pipi mama. 'pasti ada yg gak beres,' pikirku dalam hati. telpon ditutup. "nenek sudah bener-bener sekarat, kakinya dingin, cuman perutmya yg bergetar" ucap mama usai menutup telpon. kami pun bergegas menuruni tangga, menemui papa. aku berdiri tepat dibelakang punggung papa yg membelakangiku memerhatikan anak-anak yatim piatu itu. mungkin beliau sedang memikirkan nasib nya yg tak lama lagi akan menjadi anak yatim piatu. nenekku yg lagi sekarat ini adalah ibu dari papaku. ayah dari papaku telah meninggal bahkan sebelum aku dilahirkan. atau mungkin papa memikirkan nasib anak-anaknya kelak yg juga akan menjadi yatim piatu bila beliau meninggal kelak. entahlah.

tak lama, papa mendapat satu panggilan telpon, entah dari siapa. sepertinya dari orang yg sama, karena tiba-tiba suara papa juga bergetar menahan tangis. papa terus berkata "yg kuat ummi, yg kuat" dengan suara parau. kiki yg berada di sebelahku menggeser badannya dan kini sudah berada tepat di belakang papaku sambil mengelus-elus punggung papa lembut. telpon ditutup, papa meraih mic yg ada di atas soundsystem di sebelahnya. meminta do'a dari anak-anak yatim piatu untuk kesehatan nenekku. usai membaca beberapa do'a pendek, papa meletakkan mic di tempatnya semula. kemudian beliau meraih handphonenya dan mendapat satu misscall dari salah satu pegawai papa di Makassar. kemudian handphone nya kembali berdering, dari tante isa lagi. tak lama setelah papa mengangkat telpon itu, dengan airmata yg tiba-tiba mengalir deras, beliau mengucapkan kata yg sangat sakral menurutku saat itu, "innalillahi wa inna ilaihi roji'un" kata papa dengan suara serak oleh tangis. semua orang langsung menolehkan wajahnya ke papa. refleks, keluargaku mengeluarkan air mata tanpa bisa dihentikan. kiki terus mengelus punggung papa yg kini menyandarkan kepalanya ke tembok. aku tahu betul apa yg beliau rasakan.

papa membalikkan badannya ke arahku. lalu merengkuhku, kiki, mama, dan ichsan. aku bisa merasakan betapa rapuhnya beliau saat itu. "mau ikut ke makassar?" tanya papa padaku dan kik usai melepaskan pelukannya. kami berdua langung menganggukkan kepala. papa meletakkan handphonenya di atas soundsystem kemudian mengambil mic untuk memberitahukan meninggalnya nenek kami. serempak para tamu dan anak yatim piatu mengucapkan innalillahi. dengan tuntunan ustad dan Habib (salah satu sahabat papa), papa membaca do'a untuk nenek. usai membaca do'a, papa meletakkan mic itu di tempat semula. usai menyerahkan acara malam itu kepada karyawan, papa langsung menyeret kami menuju mobil pak arifin (sahabat papa). malam itu kami benar-benar buru-buru, dan belum menyiapkan mobil, maka kami memutuskan untuk menggunakan mobil pak arifin.

to be continued again...