Dinda keluar dari ruangan dokter itu dengan wajah sangat
merana. Ia tak menyangka akan mengalami hal serupa dengan Dina. Ia menggenggam
erat hasil ronsennya itu. Dokter tadi memberiknnya resep obat untuk sekedar
menghilangkan rasa nyeri di kepalanya sewaktu-waktu. Tapi Dinda tak menuju ke
apotik rumah sakit itu, ia memilih pulang. Persetan dengan kanker, ikirnya. Ia
yakin ia tak mungkin menderita penyakit itu.
Tiba di
rumah, masih dengan perasaan campur aduk, ia melemparkan tas dan hasil
ronsennya di ruang tamu lalu pergi begitu saja. Dinda memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya. Malam itu ia pergi ke taman yg ada di dekat komplek
rumahnya. Disana banyak sekali trailer yg lewat. Ia telah yakin dengan
keputusannya untuk mengakhiri hidupnya. Tapi Dinda tak sadar bahwa Aldi
mengikutinya dari belakang.
Aldi
melihat Dinda pulang dengan wajah yg sangat uring-uringan. Tak lama Aldi
mendengar suara debaman pintu dan melihat Dinda berlari menuju jalan raya yg
penuh trailer itu. Wajah Dinda sangat gusar. Aldi tak tahu apa yg sedang
terjadi dengan gadis itu. Itulah mengapa Aldi memutuskan untuk mengikutinya
saja. Dan betapa agetnya ketika menyadari Dinda berdiri di tenga jalan raya
besar itu sambil merentangkan kedua tangannya dengan keadaan mata tertutup.
Aldi tak tinggal diam. Ia langsung mendorong tubuh Dinda ke trotoar di pinggir
jalan. Namun Aldi mendapati Dinda dalam keadaan sudah pingsan. Aldi un
menggotong tubuh Dinda menuju rumah gadis itu.
Mama
dan seluruh keluarga sangat panik ketika melihat Dinda digotong oleh Aldi dalam
keadaan pingsan. Aldi pun menceritakan kronologi kejadiannya. Ternyata mama
memang sempat mendengar suara debam pintu. Ketika menuju ruang tamu, ia tak
melihat siapapun kecuali tas Dinda dan sebuah amplop coklat dengan nama sebuah
rumah sakit. Mama pun sangat kaget ketika melihat bahwa isi amplop itu adala
hasil ronsen kepala dan terdapat benjolan di dalam ronsen itu. Dinda pasti
sangat shock dengan hasil ronsen itu.
Esok
paginya, Dinda bangun dengan kepala yg sangat sakit. Ia berada di dalam
kamarnya.
“ini
kenapa surganya mirip kamarku ya?” gumam Dinda pelan. Tak lama mamanya masuk ke
dalam kamar dengan membawa makanan.
“kamu
sudah sadar? Gimana? Enakan?” Tanya mama.
“kok
bidadarinya mirip mamaku ya?” gumam Dinda lagi.
“saying
kamu masih hidup, kamu selamat. Berterima kasihlah sama Aldi yg udah nyelamatin
kamu.”
“ha?
Dinda selamat?”
` “iya.
Mama tau apa penyebab kamu ingin mati. Pasti hasil ronsen itu kan? Kenapa kamu
gak cerita sama mama? Biar kita periksa sama-sama sayang,” kata mama sambil
merengkuh Dinda.
“Dinda
takut. Dinda gak mau bikin mama kecewa juga. Sehabis Dinda pusing tempo hari,
Dinda mimisan. Makanya Dinda langsung ke rumah sakit besoknya buat periksa.
Ternyata hasilnya sama sekali tak memuaskan.” Kata Dinda dengan linangan air
mata.
“sudah
jangan nangis. Kita hadapin sama-sama ya. Papa sudah menuju ke Surabaya. Nanti
sama papa juga mau diobatin. Kamu gak usah takut.” Mama kembali merengkuh
Dinda.
Tak
lama setelah itu, kakak Dinda berteriak dari bawah bahwa ada pihak dari rumah
sakit kesini mengirim sebuah amplop. Dinda dan mamanya pun bergegas turun ke
bawah untuk melihat apa yg di bawa oleh pihak rumah sakit itu. Tiba di bawah,
mama dan Dinda melihat seorang pria berpakaian serba putih dengan label rumah
sakit di bagian dadanya.
“ini ma
orangnya mau ngejelasin sesuatu buat Dinda,” kakak Dinda angkat bicara.
“silahkan
duduk, pak,” mama mempersilahkan.
“mohon
maaf sebelumnya bu, hasil ronsen yg diterima Dinda ternyata tertukar oleh
pasien lain. Waktu itu memang sempat ada
masalah karena pertukaran loker dokter. Dan hasil ronsen Dinda tertukar oleh
Dokter yg lain yg menangani pasien yg terkena kanker itu. Namanya sama-sama
Dinda, hanya beda nama lengkapnya saja. Dinda anak ibu waktu itu memberi nama
lengkapnya, namun pasien yg satunya tak memberi serta nama lengkap. Kami dari
pihak rumah sakit dengan segenap rasa memohon maaf yg sebesar-besarnya atas
keteledoran kami,” jelas pria itu sambil memberi sebuah amplop coklat yg isinya
hasil ronsen kepala Dinda yg sesungguhnya. Hasil ronsen itu sangat bersih,
dalam artian tak ada bundaran-bundaran kecil di otaknya seperti hasil ronsen yg
diterimanya kemarin. Oleh karena itu Dinda sangat bersyukur sekali karena ia
tak perlu menghadapi cobaan seberat yg Dina alami. Nasibnya tak ‘semalang’
Dina.
“kata
dokter, anda hanya pusing biasa yg disebabkan karena anemia yg lumayan parah.
Namun dapat diatasi bila anda banyak meminum air dan makan makanan yg dapat
membantu memproduksi darah putih anda lebih banyak. Soal mimisan itu hanya hal
kecil biasa yg bisa dialami oleh siapa saja, bisa dikarenakan kecapekan ataupun
kekurangan darah putih yg menyebabkan darah merah terus keluar karena tak ada
darah putih yg menopangnya,” jelas pria ‘utusan’ dari rumah sakit itu.
Usai
meminta maaf sekali lagi, pria dari rumah sakit itu pamit pulang, setelah Dinda
mengembalikan hasil ronsen yg tertukar itu. Dinda menatap mama yg menatapnya
balik,lalu beberapa detik kemudian, Dinda sudah menghambur ke pelukan mamanya.
Ia menangis terharu. Memang tak ada seorangpun yg dapat mengetahui kapan mereka
meninggal, tapi setidaknya Dinda tak perlu khawatir untuk mengalami kesakitan
itu dan tak perlu mengeluarkan biayanya untuk penyakit itu.
Dan
bisa dipastika pasien satunya yg juga bernama Dinda itu pasti sangat terpukul
dan kecewa sekali mengetahui hasil ronsennya tertukar, namun tidak bagi Dinda.
Menurutnya hari ini akan menjadi hari terbaik kedua bila saja waktu itu
penyakit Dina dapat disembuhkan. Namun lebih membahagiakan lagi mengetahui ia
tak perlu berjuang melawan penyakitnya namun pada akhirnya akan kalah oleh
penyakit itu juga, seperti Dina.
Satu
hal yang Dinda sadari, bahwa sebenarnya kebaikan dapat membuahkan kebahagiaan.
Apalagi melihat orang lain bahagia karena kebaikan kita. Dan kebaikan sebaiknya
dilakukan karena keikhlasan, bukan karena sesuatu imbalan. Maka hasilnya akan
jauh lebih baik dari yg ia harapkan. Sampai
jumpa di ruang kanker, Dinda. Tunggu
aku menjengukmu sambil membawa balon ya.
TAMAT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar