Kamis, 10 Oktober 2013

Untitled 3

Dinda keluar dari ruangan dokter itu dengan wajah sangat merana. Ia tak menyangka akan mengalami hal serupa dengan Dina. Ia menggenggam erat hasil ronsennya itu. Dokter tadi memberiknnya resep obat untuk sekedar menghilangkan rasa nyeri di kepalanya sewaktu-waktu. Tapi Dinda tak menuju ke apotik rumah sakit itu, ia memilih pulang. Persetan dengan kanker, ikirnya. Ia yakin ia tak mungkin menderita penyakit itu.
                Tiba di rumah, masih dengan perasaan campur aduk, ia melemparkan tas dan hasil ronsennya di ruang tamu lalu pergi begitu saja. Dinda memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Malam itu ia pergi ke taman yg ada di dekat komplek rumahnya. Disana banyak sekali trailer yg lewat. Ia telah yakin dengan keputusannya untuk mengakhiri hidupnya. Tapi Dinda tak sadar bahwa Aldi mengikutinya dari belakang.
                Aldi melihat Dinda pulang dengan wajah yg sangat uring-uringan. Tak lama Aldi mendengar suara debaman pintu dan melihat Dinda berlari menuju jalan raya yg penuh trailer itu. Wajah Dinda sangat gusar. Aldi tak tahu apa yg sedang terjadi dengan gadis itu. Itulah mengapa Aldi memutuskan untuk mengikutinya saja. Dan betapa agetnya ketika menyadari Dinda berdiri di tenga jalan raya besar itu sambil merentangkan kedua tangannya dengan keadaan mata tertutup. Aldi tak tinggal diam. Ia langsung mendorong tubuh Dinda ke trotoar di pinggir jalan. Namun Aldi mendapati Dinda dalam keadaan sudah pingsan. Aldi un menggotong tubuh Dinda menuju rumah gadis itu.
                Mama dan seluruh keluarga sangat panik ketika melihat Dinda digotong oleh Aldi dalam keadaan pingsan. Aldi pun menceritakan kronologi kejadiannya. Ternyata mama memang sempat mendengar suara debam pintu. Ketika menuju ruang tamu, ia tak melihat siapapun kecuali tas Dinda dan sebuah amplop coklat dengan nama sebuah rumah sakit. Mama pun sangat kaget ketika melihat bahwa isi amplop itu adala hasil ronsen kepala dan terdapat benjolan di dalam ronsen itu. Dinda pasti sangat shock dengan hasil ronsen itu.
                Esok paginya, Dinda bangun dengan kepala yg sangat sakit. Ia berada di dalam kamarnya.
                “ini kenapa surganya mirip kamarku ya?” gumam Dinda pelan. Tak lama mamanya masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan.
                “kamu sudah sadar? Gimana? Enakan?” Tanya mama.
                “kok bidadarinya mirip mamaku ya?” gumam Dinda lagi.
                “saying kamu masih hidup, kamu selamat. Berterima kasihlah sama Aldi yg udah nyelamatin kamu.”
                “ha? Dinda selamat?”
`               “iya. Mama tau apa penyebab kamu ingin mati. Pasti hasil ronsen itu kan? Kenapa kamu gak cerita sama mama? Biar kita periksa sama-sama sayang,” kata mama sambil merengkuh Dinda.
                “Dinda takut. Dinda gak mau bikin mama kecewa juga. Sehabis Dinda pusing tempo hari, Dinda mimisan. Makanya Dinda langsung ke rumah sakit besoknya buat periksa. Ternyata hasilnya sama sekali tak memuaskan.” Kata Dinda dengan linangan air mata.
                “sudah jangan nangis. Kita hadapin sama-sama ya. Papa sudah menuju ke Surabaya. Nanti sama papa juga mau diobatin. Kamu gak usah takut.” Mama kembali merengkuh Dinda.
                Tak lama setelah itu, kakak Dinda berteriak dari bawah bahwa ada pihak dari rumah sakit kesini mengirim sebuah amplop. Dinda dan mamanya pun bergegas turun ke bawah untuk melihat apa yg di bawa oleh pihak rumah sakit itu. Tiba di bawah, mama dan Dinda melihat seorang pria berpakaian serba putih dengan label rumah sakit di bagian dadanya.
                “ini ma orangnya mau ngejelasin sesuatu buat Dinda,” kakak Dinda angkat bicara.
                “silahkan duduk, pak,” mama mempersilahkan.
                “mohon maaf sebelumnya bu, hasil ronsen yg diterima Dinda ternyata tertukar oleh pasien lain. Waktu itu  memang sempat ada masalah karena pertukaran loker dokter. Dan hasil ronsen Dinda tertukar oleh Dokter yg lain yg menangani pasien yg terkena kanker itu. Namanya sama-sama Dinda, hanya beda nama lengkapnya saja. Dinda anak ibu waktu itu memberi nama lengkapnya, namun pasien yg satunya tak memberi serta nama lengkap. Kami dari pihak rumah sakit dengan segenap rasa memohon maaf yg sebesar-besarnya atas keteledoran kami,” jelas pria itu sambil memberi sebuah amplop coklat yg isinya hasil ronsen kepala Dinda yg sesungguhnya. Hasil ronsen itu sangat bersih, dalam artian tak ada bundaran-bundaran kecil di otaknya seperti hasil ronsen yg diterimanya kemarin. Oleh karena itu Dinda sangat bersyukur sekali karena ia tak perlu menghadapi cobaan seberat yg Dina alami. Nasibnya tak ‘semalang’ Dina.
                “kata dokter, anda hanya pusing biasa yg disebabkan karena anemia yg lumayan parah. Namun dapat diatasi bila anda banyak meminum air dan makan makanan yg dapat membantu memproduksi darah putih anda lebih banyak. Soal mimisan itu hanya hal kecil biasa yg bisa dialami oleh siapa saja, bisa dikarenakan kecapekan ataupun kekurangan darah putih yg menyebabkan darah merah terus keluar karena tak ada darah putih yg menopangnya,” jelas pria ‘utusan’ dari rumah sakit itu.
                Usai meminta maaf sekali lagi, pria dari rumah sakit itu pamit pulang, setelah Dinda mengembalikan hasil ronsen yg tertukar itu. Dinda menatap mama yg menatapnya balik,lalu beberapa detik kemudian, Dinda sudah menghambur ke pelukan mamanya. Ia menangis terharu. Memang tak ada seorangpun yg dapat mengetahui kapan mereka meninggal, tapi setidaknya Dinda tak perlu khawatir untuk mengalami kesakitan itu dan tak perlu mengeluarkan biayanya untuk penyakit itu.
                Dan bisa dipastika pasien satunya yg juga bernama Dinda itu pasti sangat terpukul dan kecewa sekali mengetahui hasil ronsennya tertukar, namun tidak bagi Dinda. Menurutnya hari ini akan menjadi hari terbaik kedua bila saja waktu itu penyakit Dina dapat disembuhkan. Namun lebih membahagiakan lagi mengetahui ia tak perlu berjuang melawan penyakitnya namun pada akhirnya akan kalah oleh penyakit itu juga, seperti Dina.
                Satu hal yang Dinda sadari, bahwa sebenarnya kebaikan dapat membuahkan kebahagiaan. Apalagi melihat orang lain bahagia karena kebaikan kita. Dan kebaikan sebaiknya dilakukan karena keikhlasan, bukan karena sesuatu imbalan. Maka hasilnya akan jauh lebih baik dari yg ia harapkan. Sampai jumpa di ruang kanker, Dinda. Tunggu aku menjengukmu sambil membawa balon ya.

TAMAT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar