continued...
ketika ingin membuka pintu mobil, kiki memekikkan satu nama "ichsan.." ucapnya lirih. mama langsung menoleh, menyadari bahwa tidak ada ichsan disitu. tanpa menunggu waktu lama, mama berlari kembali menuju ruko untuk mencari ichsan. ketika mama kembali, tangannya kosong, tanpa ada tangan kecil ichsan yg biasa menggandeng tangan mama. "ichsan sudah ikut sama Om Ipin, pulang duluan" ucap mama dengan nafas yg memburu. aku dan kiki menghela nafs lega lalu memasuki mobil. aku melirik jam di handphone ku, pukul 8 malam. semua kejadian ini hanya berlangsung selama setengah jam sejak mama mendapat kabar bahwa nenek benar-benar sekarat. benar-benar waktu yg singkat, namun terasa begitu lama, dunia serasa berhenti.
tiba di depan kampung, kami semua berjalan cepat menuju rumah. mengabaikan setiap pertanyaan tetangga yg menanyakan hal yg sama "ada apa?". kuharap mereka bisa maklum. tiba di rumah, kami bergegas menaiki tangga dan menuju kamar masing-masing untuk menyiapkan pakaian masing-masing. "bawa baju dua aja, baju buat pulang sama baju tidur. pakaian dalam gak usah banyak-banyak. dijadiin satu aja di kopernya firda" mama memberi aba-aba sambil menyiapkan baju untuk papa dan ichsan. sedang aku dan kiki sibuk dengan urusannya masing-masing.
urusan baju selesai, kami bergegas turun. "telpon ical, suruh cepet pulang" kata mama. kiki meraih handphonenya dan menelpon ical, kakak laki-lakiku. setelah memberi tahu semua kejadian dengan suara yg serak oleh tangis, kiki meletakkan kembali handphonenya kedalam saku celana.
tak lama, ical pun tiba dan langsung membereskan pakaian yg akan dibawanya. para tetangga kini memenuhi ruang tamu rumahku. usai menjawab semua pertanyaan para tetangga dengan jawaban yg sama, kami bergegas keluar. Habib datang dengan membawa tas tenteng besar yg berisi air zam-zam, minyak wangi, dan potongan kayu yg entah apa namanya. usai ical merapikan barang bawaanya, kami menuju mobil Pak Arifin. di tengah jalan menuju mobil, mama menyuruh kiki dan ical mencari ichsan. karena tak punya waktu banyak, aku, mama, papa, dan pak arifin menuju mobil terlebih dahulu, sedangkan ical, kiki, ichsan, dan Habib menyusul menggunakan mobil yg dibawa oleh om ku.
selama beberapa menit di jalan, kami semua terdiam. hingga papa memecah keheningan, "hapeku mana?" kata beliau sambil merogoh-rogoh kantong. "loh, hape yg mana?" tanya mama. maklum, hape papa memang ada 4, mungkin untuk urusan kerjanya. "yg nokia" kata papa sambil tetap mencoba merogoh-rogoh kantongnya. mama meraih handphone nya dan langsung mencoba menelpon nomer yg ada di handphone nokia papa.
"..gak aktif" ucap mama pelan-pelan.
"wah, sudah hilang berarti" kata Pak Arifin, nyeletuk.
"yasudah, nanti aja dicari" kata papa kemudian. mungkin beliau lebih mementingkan bagaimana caranya untuk mendapatkan 4 tiket pesawat malam itu juga. waktu berjalan, kami lalui dengan diam. tak ada yg berbicara dalam mobil itu. mungkin lebh sibuk oleh pikiran masing-masing. akupun sibuk dengan pikiranku sendiri. entah apa yg kupikirkan. sedang airmata tak mau henti-hentinya mengalir. aku melirik mama yg duduk di sebelah ku dan papa yg duduk di sebelah pak arifin yg mengendalikan kemudi secara bergantian. hari ini hari anniversary pernikahan mama dan papa, sekaligus aan menjadi hari meninggalnya nenek. airmataku semakin deras mengalir ketika mengingat hal itu.
tiba di bandara, papa bergegas menuju loket untuk mencari tiket. aku mengambil trolley yg akan mengangkut barang bawaan kami. mama checkin terlebih dahulu karena ada yg harus diurus di dalam. tinggallah aku dan pak arifin berdiri termenung memerhatikan orang lalu lalang. orang-orang itu datang dengan ekspresi yg berbeda-beda. ada yg wajahnya gembira, mungkin mereka akan pergi berlibut. ada yg wajahnya sedih, aku kira mungkin mereka mengalami hal serupa yg sama denganku. ada juga orang dengan wajah datar, wajah-wajah yg bosan menunggu. entahlah, aku tak tau betul apa yg ada dipikiran mereka. aku memerhatikan badanku, astaga, aku lupa bahwa aku masih mengenakan dress. pantas ada yg gak enak dengan caraku berjalan. mungkin karena tadi terlalu buru-buru hingga lupa mengganti pakaian. "sms ical, bilang kalo papa sudah dapet tiket malam ini," papa datang membuyarkan lamunanku. aku mengambil handphone ku di tas, dan mengetikkan sms persis seperti yg dikatakan papa dan mengirimnya ke ical.
15 menit kemudian, mobil yg dinaiki ical, kiki, ichsan, dan habib tiba di bandara. kiki dan ical langsung melesat menuju minimarket untuk membeli minuman. sedangkan aku mengganti pakaian dengan yg lebih santai di kamar mandi. setelah kembali dari kamar mandi, semua orang sudah lengkap berkumpul, papa, kiki, ical, ichsan, habib, pak arifin, juga mama yg telah kembali dari urusannya di dalam tadi. papa menyuruhku, kiki, ical, ichsan dan mama untuk check in duluan, karna ada yg harus papa, habib, dan pak arifin bicarakan. kami pun meninggalkan papa, habib, dan pak arifin berbicara. usai check in dan memasukkan barang ke bagasi, papa datang. kami pun menuju ke ruang tunggu. tak butuh waktu lama, kami sudah dipanggil untuk segera memasuki pesawat. betapa beruntungnya keluarga ku karena pesawat yg kami tumpangi tak mengalami
delay.
kulalui waktu demi waktu di dalam pesawat dengan perasaan cemas, seolah pesawat itu berjalan dengan sangat lambat
to be continued...