Kamis, 10 Oktober 2013

Untitled 2

Dinda tiba di rumah sore hari, sekitar pukul 3 sore. Ia pun langsung menuju lapangan yg berada di kompleknya. Hari ini ia ada jadwal mengajar.
                Dina dan Dinda mendirikan sebuah ‘sekolah’ gratis. Mungkin tak bisa dikatakan sekolah, karena suasana nya hanya seperti tempat bimbel. Muridnya sedikit, terdiri dari tiga kelas, yg setiap kelas terdapat 10 anak. Umur mereka bermacam-macam. Yg berumur 6-7 tahun berada dikelas  1, umur 8-9 berada di kelas 2, dan umur 10-11 berada di kelas 3. Dina dan Dinda dibantu oleh Aldi, teman sekolah mereka  yg kebetulan juga tinggal di komplek itu.
                Dina, Dinda, dan Aldi membangun 3 rumah kayu di lapangan itu untuk dijadikan kelas, ukurannya sangat kecil, mungkin seukuran kamar dinda. Kebetulan di komplek rumah Dinda terdapat dua lapangan, yg satunya masih baru, yg satunya lagi sudah tak terpakai, banyak ilalang liar dimana-mana. Dinda cs sengaja memakai lapangan lama yg penuh ilalang itu agar tak banyak orang menganggu ‘rumah’ kayu yg sangat rentan rubuh itu.
                Aldi, yg pandai matematika dan sepakbola itu diposisikan sebagai ‘guru’ matematika dan olahraga. Dinda sebagai ‘guru’ bahasa inggris dan bahasa Indonesia. Sedangkan Dina sebagai ‘guru’ ipa dan seni. Pelajaran yg mereka ajarkan juga tak seberapa berat, hanya intinya saja, yg penting mereka paham. Pelajaran olahraga pun hanya sekedar bermain sepakbola atau berlari-lari di lapangan. Terkesan sangat santai.
                Mereka bertiga menemukan ‘murid-murid’ itu di perkampungan belakang komplek. Iseng Dina dan Dinda bermain terlalu jauh hingga perkampungan itu. Mereka berdua menemukan banyak sekali anak-anak yg tak bersekolah pada hari itu. Hingga muncul ide membuat sekolah gratis dengan bantuan Aldi. Namun semenjak peninggalan Dina, Dinda dan Aldi jadi sulit mengajar. Beberapa hari setelah meninggalnya Dina, sekolah itu diliburkan, bahkan Dinda berniat membubarkannya saja, percuma pikirnya. Namun Aldi melarangnya, tanggung sudah sampai sini katanya.
                Jadi disinilah Dinda, di lapangan itu, siap mengajar sendirian. Ya, jadwalnya kembali diatur, kalau dulu jadwal mereka mengajar setiap hari, kini haru dibagi, seminggu dua kali, karena kekurangan satu guru. Senin-selasa giliran kelas 3, rabu-kamis giliran kelas 2, jumat-sabtu kelas 1, di hari minggu biasanya mereka berkumpul, seedar bermain sepakbola atau bernyanyi bersama dengan alunan gitar Aldi .Dinda dan Aldi pun membagi tugas. Dinda kini mendapat satu tugas mengajar ipa, sedangkan Aldi dibidang seni. Sudah  dua minggu setelah sepeninggal Dina, wajah murid-muridnya masih sangaaat murung. Dinda tau, mereka pasti merindukan Dina yg sangat lemah lembut. Begitupun Dinda.
                Di tengah-tengah mengajar, tiba-tiba saja kepala Dinda sangat sakit sekali. Perutnya juga mual seperti ingin muntah. Ia pun sengaja menghentikan kelas itu sebelum waktunya, untunglah anak-anak itu mengerti dan bahkan ingin mengantar Dinda ke rumah yg ditolaknya dengan halus. Tiba di rumah, ia langsung menggeletakkan badannya diatas sofa ruang tamu. Ia ingin istirahat yg sangat panjang.
* * *
                Dinda bangun dengan keadaan kepala yg masih terasa sakit. Meskipun tak sesakit saat ia mengajar. Dinda melirik kea rah jam dinding di ruang tamunya, menunjukkan pukul 10 malam. Sepertinya ia akan insomnia mala mini. Ia pun perlahan berjalan menuju dapur, berniat mengambil air putih. Ketika mamanya datang menghampirinya>
                “din, sudah bangun? Kepalanya masih sakit?”
                “mama kok belum tidur?” Tanya Dinda balik.
                “hah? Tidur? Mama sudah bangun lah,” jawab mama, yg membuat kening Dinda berkerut.
                “haha, mama tau, kamu pasti ngira sekarang jam 10 malam ya? Coba liat keluar deh,” lanjut mama.
                Dinda menurut, ia pun menuju keluar rumahnya dengan mulut ternganga, sekarang sudah pagi! Pagi di hari senin. Yang itu artinya ia membolos hari ini. Ia pun bergegas menuju dapur.
                “mama kok gak banguni aku sih? Aku kan harus sekolah ma. Udah telat banget lagi,” omel Dinda.
                “kamu bilang kepalamu sakit banget waktu mama bangunin tadi pagi jam 6. Yaudah mama biarin. Soalnya semalem Aldi juga ke rumah, dia mau lihat keadaan kamu, soalnya ada salah satu murid kamu ngadu ke Aldi katanya kemarin kamu pulang cepet pas ngajar soalnya sakit. Terus tadi pagi pas berangkat Aldi juga ngecek keadaan kamu, kamunya masih tidur pules banget. Dia malah takut kamu udah gak bernyawa. Haha Aldi khawatirnya lebay banget. Yaudah katanya nanti sepulang sekolah mau mampir lagi, ngecek keadaanmu,” jelas mama panjang lebar.
                “oooh. Eh tapi tadi pagi aku gak ngerasa bilang kalo kepalaku sakit deh. Kayaknya aku tuh tidur pules banget,”
                “ya namanya juga orang tidur pules, disiram air juga gak kerasa. Malah mama kira kamu pingsan loh. Soalnya pas malemnya mama bangunin kamu, mau nyuruh kamu pindah kamar tapi kamu gak gerak sama sekali. Eh pas mama kelitikn, kaki kamu gerak, yaudah deh mama biarin aja. “
                “jahat banget gak dipindahin ke kamar kek, kan pegel juga ini leher tidur di sofa selama 18 jam.”
                “kan mama gak kuat, mau nyuruh Aldi tapi bukan muhrim, yaudah mama biarin. Eh lama juga ya tidur kamu selama 18 jam. Kayak mati suri haha. Mimpi apa aja kamu?” Tanya mama sambil bercanda.
                “mimpi punya orangtua yg tega sama anaknya.” Jawab dinda yg langsung melengos menuju kamar. Ia buru-buru mengcharge handphonenya yg sudah lowbat sejak tadi maalam. Ada beberapa notif bbm dari teman-temannya dan miscall dari Aldi. Tapi ia biarkan, ia merasa sangat bau. Ia pun menuju ke kamar mandi. Tapi betapa kagetnya dia ketika menyadari darah mengecer dari hidungnya seiring a berjalan menuju kamar mandi….
* * *
                Dinda mengurungkan niatnya untuk mandi. Ia terlalu takut menyentuh air itu. Dinda masih shock dengan darah yg deras mengalir di hidungnya, sekarang pun masih ada sisa-sisa tetesan itu. Dinda masih menghadapkan wajahnya ke langit-langit kamar, mengusahakan agar darah tak lagi mengalir. Tangannya mencoba menggapai tisu yg ada di meja belajar samping tempat tidurnya. Ia mengelap hidungnya dengan tisu dan kembali menghadapkan wajahnya ke depan setelah di rasa darah dari hidungnye berhenti mengalir. Kemudian ia membersihkan darah mimisannya yg masih tercecer di lantai. Tak ada seorangpun yg boleh tau masalah ini. Juga aldi atau mamanya.
                Ia masih belum berani keluar dari kamar. Menuju rumah sakit pun ia belum berani. Ia takut wajah pucatnya itu kentara di mata mama. Ia pun memutuskan untuk tidur-tiduran saja di kamar.
                  Hingga sore hari, Dinda masih tetap tak keluar kamar. Meskipun Aldi telah menunggunya di bawah. Dinda takut Aldi mengetahuinya kalo Dinda sedang sakit, yg cirri-cirinya seperti Dina alami. Mama kembali mengetuk pintun kamar Dinda, “dinda ayo, itu Aldi kasian nunggu di bawah”. Dengan enggan, Dinda pun menuruni tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
                “iya ma”
                “lama banget sih, kan kasian Aldinya.” Mama menuruni tangga yg disusul oleh Dinds. Tiba di ruang tamu, Dinda melihat Aldi masih dengan seragam sekolahnya duduk selonjoran, namun segera bangkit duduk tegak ketika melihat Dinda datang.
                “din, kamu lama banget sih. Ngapain aja di kamar? Bertelur? Haha. Kamu masih sakit? Pucet banget itu muka. Pasti deh belum mandi. Gimana ceritanya itu bisa pusing? Aku liat kamu banyak kegiatan akhir-akhir ini. Setiap ngajar pasti masih pake seragam. Emang biasanya sepulang sekolah gak langsung pulang ya? Pantesan deh pusing sampek tidur selama 18 jam. Aku kira kamu mati loh. Ohiya tadi di sekolah tuh blab la bla…” aldi masih dengan semangatnya mengoceh panjang lebar tanpa member waktu Dinda untuk meenjawab semua pertanyaannya.
                “kamu cerewet banget sih. Aku belum jawab, udah nyerocos mulu. Pake miscall sama ngebom ping lagi. Ngapain sih. Aku masih hidup, emang kamu lebay hi.”
                “ya kan aku khawatir, wajar kali. Kamu aku bbm gak di read, aku telfon juga gak diangkat, yaudah aku ke rumahmu tadi malem. Pas pagi ke rumahmu lagi, eh kamu masih tidur. Aku kira sekarang juga masih tidur.”
                “kamu gak ngajar? Udah jam 3 loh. Entar telat.”
                “enggak, kemarin aku udah bilang ke anak-anak kalo hari ini libur. Mereka ngertilah, kamu kan masih sakit.”
                “yang sakit kan aku, ini kan jadwal ngajar kamu. Ngapain libur alasan aku sakit.”
                “anak-anak ngerti kali, kalo kamu sakit, aku pasti jenguk.”
                “coba tau tadi aku gak usah turun nemuin kamu biar kamu pulang ngajar aja.”
                “segitunya sih, kamu ngusir aku Din? masih untung juga aku jenguk.n  Again percuma kali, aku ke lapangan anak-anaknya gak ada.”
                “serah kamu deh. Terus mau ngapain disini?”
                “mau interogasi kamu. Kamu kok bisa pusing?”
                “kecapekan mungkin. Tau deh, tiba-tiba aja pengen tidur panjang.”
                “hus, mati dong. Masa iya aku ngajar sendirian. Makin suram dong tuh sekolah.”
                Dan bisa dipastikan percakapan selanjutnya antara Dinda dan Aldi hanyalah percakapan basa-basi dan bercandaan biasa.
* * *
                Besoknya, pulang sekolah, Dinda sengaja tak langsung pulang, ia akan ke rumah sakit. Berniat memeriksakan tentang sakit kepalanya dan mimisannya kemarin. Hari ini jadwal mengajarnya pun telah digantikan oleh Aldi. Dengan segenap keberanian, ia mencoba melangkahkan kakinya memasuki ruang periksa. Selama di periksa, ia sangat berdoa agar tak terjadi apa-apa. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya, yg pasti kata dokter hasil pemeriksaan akan dilihat besok. Karena tak tanggung-tanggung, Dinda langsung memeriksakan dirinya ke spesialis kanker. Ia benar-benar takut ciri-ciri itu adalah cirri-ciri kanker. Hasil diagnosanya bisa dinda terim di rumah sakit dua hari lagi.
                Selama menunggu hasil diagnosanya, Dinda tak henti-hentinya berdoa. Ia sangat takut. Meski amalan pahalanya menurutnya cukup untuk bekalnya kelak, namun siapapun takut mati. Hari demi hari ia lewati dengan hati deg-degan, entah kenapa ia malah takut terkena penyakit jantung….
                Dua hari berlalu, saatnya dinda untuk kembali ke rumah sakit, mengambil hasil diagnose nya. Ia terus berdoa sepanjang jalan. Sama seperti menunggu hasil UN saja pikirnya. Dokter memberikan sebuah hasil ronsen di kepala Dinda. Dinda mengernyitkan keningnya, ia tak tahu apa arti ambar itu.

                “ini maksudnya gimana dok?” Tanya dinda.
                “itu ada benjolan di bagian otakmu. Itu adalah kanker yg sudah merajalela di seluruh otakmu. Kau terlambat menyadarinya. Agak susah menyembuhkannya. Karena kanker itu sudah stadium 3,” jelas dokter yg membuat Dinda mengangakan mulutknya.
                “tapi dok, baru kemarin saya mengalami pusing dan mimisan. Masa’ secepat itu? Gak mungkin…”
                “mungkin sejak kemarin-kemarin kamu mengalami pusing itu, tapi puncaknya adalah kemarin. Dan kamu baru menyadarinya. Pergerakan kanker memang sangat cepat. Menanganinya pun harus cepat. Saya juga bingung kenapa kamu kesini sendiri tanpa orangtuamu. Apa mereka sudah meninggal karena kanker juga?? Lalu menurun kepadamu?”
                “enggak enggak, orangtua saya masih utuh. Saya sengaja tak ingin memberitahu mereka. Saya gak mau bikin mereka kecewa.”
                “tapi harus ada tindakan lanjut dari penyakitmu ini. Caranya hanya satu, yaitu operasi. Tapi kau harus merelakan kecacatan dalam sebagian wajahmu. Kecuali kau mau memakai cara yg lain.”
                “operasi? Gak mungkin. Apa cara lain itu?”

                “kemoterapi…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar