Dinda tiba di rumah sore hari, sekitar pukul 3 sore. Ia pun
langsung menuju lapangan yg berada di kompleknya. Hari ini ia ada jadwal
mengajar.
Dina
dan Dinda mendirikan sebuah ‘sekolah’ gratis. Mungkin tak bisa dikatakan
sekolah, karena suasana nya hanya seperti tempat bimbel. Muridnya sedikit,
terdiri dari tiga kelas, yg setiap kelas terdapat 10 anak. Umur mereka
bermacam-macam. Yg berumur 6-7 tahun berada dikelas 1, umur 8-9 berada di kelas 2, dan umur 10-11
berada di kelas 3. Dina dan Dinda dibantu oleh Aldi, teman sekolah mereka yg kebetulan juga tinggal di komplek itu.
Dina,
Dinda, dan Aldi membangun 3 rumah kayu di lapangan itu untuk dijadikan kelas,
ukurannya sangat kecil, mungkin seukuran kamar dinda. Kebetulan di komplek
rumah Dinda terdapat dua lapangan, yg satunya masih baru, yg satunya lagi sudah
tak terpakai, banyak ilalang liar dimana-mana. Dinda cs sengaja memakai
lapangan lama yg penuh ilalang itu agar tak banyak orang menganggu ‘rumah’ kayu
yg sangat rentan rubuh itu.
Aldi,
yg pandai matematika dan sepakbola itu diposisikan sebagai ‘guru’ matematika
dan olahraga. Dinda sebagai ‘guru’ bahasa inggris dan bahasa Indonesia.
Sedangkan Dina sebagai ‘guru’ ipa dan seni. Pelajaran yg mereka ajarkan juga
tak seberapa berat, hanya intinya saja, yg penting mereka paham. Pelajaran
olahraga pun hanya sekedar bermain sepakbola atau berlari-lari di lapangan.
Terkesan sangat santai.
Mereka
bertiga menemukan ‘murid-murid’ itu di perkampungan belakang komplek. Iseng
Dina dan Dinda bermain terlalu jauh hingga perkampungan itu. Mereka berdua
menemukan banyak sekali anak-anak yg tak bersekolah pada hari itu. Hingga
muncul ide membuat sekolah gratis dengan bantuan Aldi. Namun semenjak
peninggalan Dina, Dinda dan Aldi jadi sulit mengajar. Beberapa hari setelah
meninggalnya Dina, sekolah itu diliburkan, bahkan Dinda berniat membubarkannya
saja, percuma pikirnya. Namun Aldi melarangnya, tanggung sudah sampai sini
katanya.
Jadi
disinilah Dinda, di lapangan itu, siap mengajar sendirian. Ya, jadwalnya
kembali diatur, kalau dulu jadwal mereka mengajar setiap hari, kini haru
dibagi, seminggu dua kali, karena kekurangan satu guru. Senin-selasa giliran
kelas 3, rabu-kamis giliran kelas 2, jumat-sabtu kelas 1, di hari minggu
biasanya mereka berkumpul, seedar bermain sepakbola atau bernyanyi bersama
dengan alunan gitar Aldi .Dinda dan Aldi pun membagi tugas. Dinda kini mendapat
satu tugas mengajar ipa, sedangkan Aldi dibidang seni. Sudah dua minggu setelah sepeninggal Dina, wajah
murid-muridnya masih sangaaat murung. Dinda tau, mereka pasti merindukan Dina
yg sangat lemah lembut. Begitupun Dinda.
Di
tengah-tengah mengajar, tiba-tiba saja kepala Dinda sangat sakit sekali.
Perutnya juga mual seperti ingin muntah. Ia pun sengaja menghentikan kelas itu
sebelum waktunya, untunglah anak-anak itu mengerti dan bahkan ingin mengantar
Dinda ke rumah yg ditolaknya dengan halus. Tiba di rumah, ia langsung
menggeletakkan badannya diatas sofa ruang tamu. Ia ingin istirahat yg sangat
panjang.
* *
*
Dinda
bangun dengan keadaan kepala yg masih terasa sakit. Meskipun tak sesakit saat
ia mengajar. Dinda melirik kea rah jam dinding di ruang tamunya, menunjukkan
pukul 10 malam. Sepertinya ia akan insomnia mala mini. Ia pun perlahan berjalan
menuju dapur, berniat mengambil air putih. Ketika mamanya datang menghampirinya>
“din,
sudah bangun? Kepalanya masih sakit?”
“mama
kok belum tidur?” Tanya Dinda balik.
“hah?
Tidur? Mama sudah bangun lah,” jawab mama, yg membuat kening Dinda berkerut.
“haha,
mama tau, kamu pasti ngira sekarang jam 10 malam ya? Coba liat keluar deh,”
lanjut mama.
Dinda
menurut, ia pun menuju keluar rumahnya dengan mulut ternganga, sekarang sudah
pagi! Pagi di hari senin. Yang itu artinya ia membolos hari ini. Ia pun
bergegas menuju dapur.
“mama
kok gak banguni aku sih? Aku kan harus sekolah ma. Udah telat banget lagi,”
omel Dinda.
“kamu
bilang kepalamu sakit banget waktu mama bangunin tadi pagi jam 6. Yaudah mama
biarin. Soalnya semalem Aldi juga ke rumah, dia mau lihat keadaan kamu, soalnya
ada salah satu murid kamu ngadu ke Aldi katanya kemarin kamu pulang cepet pas
ngajar soalnya sakit. Terus tadi pagi pas berangkat Aldi juga ngecek keadaan
kamu, kamunya masih tidur pules banget. Dia malah takut kamu udah gak bernyawa.
Haha Aldi khawatirnya lebay banget. Yaudah katanya nanti sepulang sekolah mau mampir
lagi, ngecek keadaanmu,” jelas mama panjang lebar.
“oooh.
Eh tapi tadi pagi aku gak ngerasa bilang kalo kepalaku sakit deh. Kayaknya aku
tuh tidur pules banget,”
“ya
namanya juga orang tidur pules, disiram air juga gak kerasa. Malah mama kira
kamu pingsan loh. Soalnya pas malemnya mama bangunin kamu, mau nyuruh kamu
pindah kamar tapi kamu gak gerak sama sekali. Eh pas mama kelitikn, kaki kamu
gerak, yaudah deh mama biarin aja. “
“jahat
banget gak dipindahin ke kamar kek, kan pegel juga ini leher tidur di sofa
selama 18 jam.”
“kan
mama gak kuat, mau nyuruh Aldi tapi bukan muhrim, yaudah mama biarin. Eh lama
juga ya tidur kamu selama 18 jam. Kayak mati suri haha. Mimpi apa aja kamu?”
Tanya mama sambil bercanda.
“mimpi
punya orangtua yg tega sama anaknya.” Jawab dinda yg langsung melengos menuju
kamar. Ia buru-buru mengcharge handphonenya yg sudah lowbat sejak tadi maalam.
Ada beberapa notif bbm dari teman-temannya dan miscall dari Aldi. Tapi ia
biarkan, ia merasa sangat bau. Ia pun menuju ke kamar mandi. Tapi betapa
kagetnya dia ketika menyadari darah mengecer dari hidungnya seiring a berjalan
menuju kamar mandi….
* * *
Dinda
mengurungkan niatnya untuk mandi. Ia terlalu takut menyentuh air itu. Dinda
masih shock dengan darah yg deras mengalir di hidungnya, sekarang pun masih ada
sisa-sisa tetesan itu. Dinda masih menghadapkan wajahnya ke langit-langit
kamar, mengusahakan agar darah tak lagi mengalir. Tangannya mencoba menggapai
tisu yg ada di meja belajar samping tempat tidurnya. Ia mengelap hidungnya
dengan tisu dan kembali menghadapkan wajahnya ke depan setelah di rasa darah
dari hidungnye berhenti mengalir. Kemudian ia membersihkan darah mimisannya yg
masih tercecer di lantai. Tak ada seorangpun yg boleh tau masalah ini. Juga
aldi atau mamanya.
Ia
masih belum berani keluar dari kamar. Menuju rumah sakit pun ia belum berani.
Ia takut wajah pucatnya itu kentara di mata mama. Ia pun memutuskan untuk
tidur-tiduran saja di kamar.
Hingga
sore hari, Dinda masih tetap tak keluar kamar. Meskipun Aldi telah menunggunya
di bawah. Dinda takut Aldi mengetahuinya kalo Dinda sedang sakit, yg
cirri-cirinya seperti Dina alami. Mama kembali mengetuk pintun kamar Dinda,
“dinda ayo, itu Aldi kasian nunggu di bawah”. Dengan enggan, Dinda pun menuruni
tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
“iya
ma”
“lama
banget sih, kan kasian Aldinya.” Mama menuruni tangga yg disusul oleh Dinds.
Tiba di ruang tamu, Dinda melihat Aldi masih dengan seragam sekolahnya duduk
selonjoran, namun segera bangkit duduk tegak ketika melihat Dinda datang.
“din,
kamu lama banget sih. Ngapain aja di kamar? Bertelur? Haha. Kamu masih sakit?
Pucet banget itu muka. Pasti deh belum mandi. Gimana ceritanya itu bisa pusing?
Aku liat kamu banyak kegiatan akhir-akhir ini. Setiap ngajar pasti masih pake
seragam. Emang biasanya sepulang sekolah gak langsung pulang ya? Pantesan deh
pusing sampek tidur selama 18 jam. Aku kira kamu mati loh. Ohiya tadi di
sekolah tuh blab la bla…” aldi masih dengan semangatnya mengoceh panjang lebar
tanpa member waktu Dinda untuk meenjawab semua pertanyaannya.
“kamu
cerewet banget sih. Aku belum jawab, udah nyerocos mulu. Pake miscall sama
ngebom ping lagi. Ngapain sih. Aku masih hidup, emang kamu lebay hi.”
“ya kan
aku khawatir, wajar kali. Kamu aku bbm gak di read, aku telfon juga gak
diangkat, yaudah aku ke rumahmu tadi malem. Pas pagi ke rumahmu lagi, eh kamu
masih tidur. Aku kira sekarang juga masih tidur.”
“kamu
gak ngajar? Udah jam 3 loh. Entar telat.”
“enggak,
kemarin aku udah bilang ke anak-anak kalo hari ini libur. Mereka ngertilah,
kamu kan masih sakit.”
“yang
sakit kan aku, ini kan jadwal ngajar kamu. Ngapain libur alasan aku sakit.”
“anak-anak
ngerti kali, kalo kamu sakit, aku pasti jenguk.”
“coba
tau tadi aku gak usah turun nemuin kamu biar kamu pulang ngajar aja.”
“segitunya
sih, kamu ngusir aku Din? masih untung juga aku jenguk.n Again percuma kali, aku ke lapangan
anak-anaknya gak ada.”
“serah
kamu deh. Terus mau ngapain disini?”
“mau
interogasi kamu. Kamu kok bisa pusing?”
“kecapekan
mungkin. Tau deh, tiba-tiba aja pengen tidur panjang.”
“hus,
mati dong. Masa iya aku ngajar sendirian. Makin suram dong tuh sekolah.”
Dan
bisa dipastikan percakapan selanjutnya antara Dinda dan Aldi hanyalah
percakapan basa-basi dan bercandaan biasa.
* * *
Besoknya,
pulang sekolah, Dinda sengaja tak langsung pulang, ia akan ke rumah sakit.
Berniat memeriksakan tentang sakit kepalanya dan mimisannya kemarin. Hari ini
jadwal mengajarnya pun telah digantikan oleh Aldi. Dengan segenap keberanian,
ia mencoba melangkahkan kakinya memasuki ruang periksa. Selama di periksa, ia
sangat berdoa agar tak terjadi apa-apa. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya,
yg pasti kata dokter hasil pemeriksaan akan dilihat besok. Karena tak
tanggung-tanggung, Dinda langsung memeriksakan dirinya ke spesialis kanker. Ia
benar-benar takut ciri-ciri itu adalah cirri-ciri kanker. Hasil diagnosanya
bisa dinda terim di rumah sakit dua hari lagi.
Selama
menunggu hasil diagnosanya, Dinda tak henti-hentinya berdoa. Ia sangat takut.
Meski amalan pahalanya menurutnya cukup untuk bekalnya kelak, namun siapapun
takut mati. Hari demi hari ia lewati dengan hati deg-degan, entah kenapa ia
malah takut terkena penyakit jantung….
Dua
hari berlalu, saatnya dinda untuk kembali ke rumah sakit, mengambil hasil diagnose
nya. Ia terus berdoa sepanjang jalan. Sama seperti menunggu hasil UN saja
pikirnya. Dokter memberikan sebuah hasil ronsen di kepala Dinda. Dinda
mengernyitkan keningnya, ia tak tahu apa arti ambar itu.
“ini
maksudnya gimana dok?” Tanya dinda.
“itu
ada benjolan di bagian otakmu. Itu adalah kanker yg sudah merajalela di seluruh
otakmu. Kau terlambat menyadarinya. Agak susah menyembuhkannya. Karena kanker
itu sudah stadium 3,” jelas dokter yg membuat Dinda mengangakan mulutknya.
“tapi
dok, baru kemarin saya mengalami pusing dan mimisan. Masa’ secepat itu? Gak
mungkin…”
“mungkin
sejak kemarin-kemarin kamu mengalami pusing itu, tapi puncaknya adalah kemarin.
Dan kamu baru menyadarinya. Pergerakan kanker memang sangat cepat. Menanganinya
pun harus cepat. Saya juga bingung kenapa kamu kesini sendiri tanpa orangtuamu.
Apa mereka sudah meninggal karena kanker juga?? Lalu menurun kepadamu?”
“enggak
enggak, orangtua saya masih utuh. Saya sengaja tak ingin memberitahu mereka.
Saya gak mau bikin mereka kecewa.”
“tapi
harus ada tindakan lanjut dari penyakitmu ini. Caranya hanya satu, yaitu
operasi. Tapi kau harus merelakan kecacatan dalam sebagian wajahmu. Kecuali kau
mau memakai cara yg lain.”
“operasi?
Gak mungkin. Apa cara lain itu?”
“kemoterapi…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar