continued...
aku, kiki, ichsan, dan ical mendapat kursi bagian belakang sedangkan mama dan papa berada jauh di depan. mungkin karena perbedaan waktu ketika membeli tiket. tak apa, yg penting kami mendapat tiket malam itu juga. selanjutnya, waktu demi waktu yg kulewati di atas udara seolah sangat lama. aku duduk dengan gerakan gelisah. tak sabar ingin cepat sampai tujuan. aku meraih headset dan mencoba menenggelamkan pikiran ke dalam lagu-agu yg berputar. aku mencoba memejamkan mata, tapi seolah ada perekat di kelopak mataku yg membuatku tetap terjaga. 2 jam berada di atas udara, akhirnya pramugari itu mengumumkan melalu microfon bahwa pesawat telah tiba di bandara sultan hasanuddin. aku buru-buru menegakkan posisi dudukku yg mulanya hampir merosot ke bawah. andai saja waktu itu aku tidak ditahan oleh selt belt, pasti aku sudah berlari menuju pintu pesawat dan menunggunya untuk dibuka. 5 menit berlalu, pesawat sudah berhenti sempurna. pintu pesawat pun telah dibuka. orang-orang berdesakan untuk keluar. jika ical tak menarikku untuk tetap sabar menunggu desakan itu sedikit lengang, aku pasti sudah berada di antara orang-orang yg berdesakan itu.
usai turun dari pesawat dan menaiki bus untuk menuju gedung bandara, tujuan utamaku adalah kamar mandi. karena terlalu gugup dan gelisah, disertai udara dingin dari pesawat, aku tak tahan untuk buang air kecil. keluar dari kamar mandi, barang bawaanku yg masuk bagasi telah diambil, karena hanya satu koper, jadi tak butuh waktu lama untuk mengambil barang. nenek dari mama, yg biasa di panggil nenek caca sudah menunggu untuk menjemput keluargaku. nenek caca datang bersama sepupuku bernama kakak jeva. melihat rombongan keluarga kami keluar dari pintu gedung utama bandara, nenek caca langsung memeluk mama dan papa secara bergantian. sambil menangis, nenek caca terus berkata "ummi mu sudah gak ada" pada mama dan papa. tuhan, betapa aku ingin menjerit, "aku tau, aku mohon jangan menangis, jangan bersedih, nenek pasti ada di alam sana", tapi aku hanya menelan kembali kata-kata itu.
setelah menyewa mobil dan sopir untuk mengantar kami menuju desa tempat kediaman nenek, kami langsung melesat. dalam perjalanan, nenek caca, kak jeva, mama, dan papa tak henti-hentinya bercerita menggunakan bahasa bugis yg aku tak tau artinya. percakapan itu berhenti ketika mobil berhenti di depan minimarket yg buka 24jam. aku melirik jam, pukul set 12. perjalanan dari makassar menuju desaku lumayan lama, mungkin aku tiba disana ketika pukul 2 pagi. papa yg memutuskan untuk memasuki minimarkte itu kembali dengan membawa dua kresek besar berisi camilan. mungkin beliau memiliki inisiatif, perjalanan panjang akan melelahkan dan membuat lapar, maka dari itu beliau membeli banyak camilan untuk dimakan di dalam mobil.
prediksiku benar, aku tiba di desa pukul 2 pagi kurang 15 menit. halaman depan rumahku yg luas itu di penuhi oleh para tetangga. papa termasuk orang yg di hormati di kampung nenekku itu. karena mendiang almarhum kakekku adalah orang yg tersohor pula di kampung itu. saat itu hanya kedatangan keluarga dari papaku lah yg ditunggu, karena papa termasuk anak kesayangan dari nenekku.
aku memasuki rumah dengan jantung yg berdegup kencang. dari ujung pintu sudah terlihat mayat nenek tergeletak lemah ditutupi kain sarung. oh tuhan, aku tak mampu menahan tangisku, airmata langsung mengalir deras di pipiku. aku meletakkan tas kecilku yg kusampirkan di lengan ke lantai lalu duduk terkulai lemas di samping mayat nenek. keluargaku yg tadinya terlelap, kini terbangun ketika mengetahui keluargaku telah tiba. tante nana, anak pertama dari nenekku, membuka selendang putih yg menutupi separuh wajah nenek. aku menatap wajah tenang nenek. wajahnya benar-benar pucat. kerutan di wajahnya terlihat jelas. mulutnya terkatup rapat. betapa ingin aku teriak di telinganya "bangun lah nek, kumohon, bangunlah" namun apa daya, membuka mulutku pun aku tak sanggup. papa menyuruhku untuk mencium pipi nenek, ada sedikit rasa takut dan ragu, namun aku tetap harus mencium nenek, untuk yg terakhir kalinya. kurasakan bibirku menyentuh pipi nenek yg sangat dingin. ingin aku memeluknya, memberi kehangatan padanya, namun percuma, hal itu tak akan membuat nenek bangkit kembali. aku menyadari satu hal, nenek telah pergi untuk selamanya.
setelah bercerita sedikit dengan keluargaku, aku menuju kamar mama yg berada di lantai atas. aku belum berani tidur sendirian di kamar, karena keadaan yg seperti ini. aku menerima beberapa bbm dari teman-temanku yg mengucapkan turut berduka cita. aku membalasnya dengan ucapan terima kasih. waktu terus bergulir, menunjukkan pukul 4 pagi, disaat itu pula mataku baru bisa terpejam. merasakan kelelahan yg sangat mendalam. esok paginya, aku terbangun pukul 8 pagi. setelah mandi dan bersiap-siap, aku menuruni tangga. di bawah sudah banyak tetangga yg memenuhi rumah. semua saudara juga sudah berkumpul. aku segera bergabung bersama mereka. hari ini adalah proses pemandian dan pemakaman nenek.
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar