Rabu, 12 Desember 2012

Aku dan Nenek part VI

continued...

prosesi pemandian dilakukan usai adzan dhuhur. aku bisa melihat jelas prosesi pemandian jenazah nenekku. dengan sangat jelas. bagaimana orang-orang itu mengguyurkan air dengan sangat kasar ke jenazah nenek. bagaimana orang-orang itu dengan sangat kasar pula menggosok dan membalikkan jenazah nenek. aku sungguh tak tega melihatnya. aku berpindah tempat dari barisan depan menuju tangga berputar di dekat tempat jenazah nenek dimandikan. setidaknya aku tidak terlalu jelas melihat jenazah nenek yg diperlakukan secara buruk oleh orang-orang itu. aku sering mendengar, bahwa sesungguhnya bila orang yg baru saja meninggal itu masih bisa merasakan sakitnya ketika nyawanya dicabut. bahkan, saat memandikan jenazah pun harus dengan sangat hati-hati, karna sesungguhnya tanpa bisa kita lihat dengan mata kepala kita, jenazah itu masih berlumuran darah dan diterkam dengan rasa sakit yg mendalam. namun orang-orang itu memandikan jenazah nenek dengan sangat buruk.

usai dimandikan, jenazah nenek dibalut dengan kain putih tipis baru kemudian dibungkus dengan kain kafan. jenazah nenek selanjutnya dibawa ke ruang tamu untuk di sholati salah satu imam yg biasa dipakai untuk menyolati mayat. setelah itu, papa menyuruh semua anak, cucu, dan keluarga dekat lain untuk mencium jenazah nenek sebelum disholati. aku mencium jenazah nenek dengan genangan air mata yg siap tumpah. lalu dibacakan sedikit do'a pendek sebelum papa menaburkan parfum yg dibawakan oleh habib kemarin malam .barulah jenazah nenek dibawa ke masjid untuk disholati oleh para keluarga dan tetangga. sholat dhuhur dilakukan bersamaan dengan sholat jenazah. aku dan keluargaku memilih untuk langsung menuju lokasi pemakaman yg tidak jauh dari rumah. jenazahnya lebih dulu tiba dibandingkan keluargaku. orang-orang mengerubungi lubang kuburan itu. aku berusaha sekuat tenaga untuk menerobos sekerumunan orang. hingga akhirnya aku berhasil berada tepat disamping lubang kuburan.

setelah lubang sudah cukup dalam, jenazah nenek dimasukkan ke lubang kuburan dengan sangat hati-hati. aku bisa menyaksikan jelas bagaimana jenazah nenek dimasukkan ke dalam lubang itu. lubang itu sangat dalam dan pastinya sangat gelap. lalu bagaimana bila malam hari? sedangkan siang begini saja lubang kuburan itu sudah terlihat suram. aku memikirkan, bagaimana sepinya nenek berada di dalam sana sendirian. menikmati malam demi malam dengan keadaan gelap dan sendiri. oh tuhan, andai aku bisa menemaninya. kemudian aku memerhatikan sekeliling, memerhatikan wajah-wajah orang tua yg terlihat khawatir. mungkin mereka takut, karena setelah ini akan mengalami hal yg di alami nenek. tak bisa dipungkiri, semua orang akan mati, dan semua orang takut kematian. begitupun aku. mungkin juga nenek.

lubang kuburan itu ditutup diselingi bacaan sholawat. kemudian membaca do'a yg dipimpin oleh ustad yg biasa memimpin do'a bila ada acara. usai membaca do'a, para tetangga pulang. kini tinggallah kami, keluarga dan kerabat dekat saja. papa duduk jongkok di samping kuburan nenek. mengelus-elus batu nisan yg berdiri tegak diatas tanah liang lahat itu. kemudian mengambil air zamzam dan menyiramkannya diatas kuburan nenek. lalu menyerahkan air zamzam itu ke kerabat yg lain. setelah menyiram air, papa kembali memimpin do'a untuk nenek. dan membacakan al-fatihah sebagai makanan nenek di alam sana. selesai, kami pun pulang.

tiba di rumah, kami semua langsung menuju meja yg berisi makanan. karena belum sempat sarapan, porsi makan siang pun menjadi 2x lipat. aku dan beberapa saudaraku makan dengan membuat lingkaran kecil sambil bercerita tentang runtutan kejadian hari ini. usai makan, kami pun terkulai lemas di atas kasur, kelelahan. malamnya, beberapa kerabat memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. papa mengurus pembelian tiket pulang untukku, kiki, ical, dan ichsan. dan memutuskan untuk pulang kembali ke surabaya pada sore esok harinya.

finally, besok siang kami semua sudah siap menuju bandara di makassar. perjalanan menuju makassar kini terasa hambar. biasanya nenek yg paling sedih bila keluargaku kembali ke surabaya. nenek selalu merasa kesepian di masa tua-tuanya. dan kini, bahkan di akhir hayatnya, nenek juga merasa kesepian, di dalam lubang itu.

selamat tinggal makassar, selamat tinggal nenek, tenanglah disana nek. disini, meski di dunia yg berbeda, firda akan selalu mendoakan nenek. we love you nek, together :')

TAMAT.

2 komentar: