continued..
acara di mulai sebelum adzan maghrib berkumandang. tamu yg mayoritas pria itu membaca sholawat dan ratib yg dipimpin oleh ustad yg disewa oleh papa. kami, para kaum hawa ditempatkan di lantai atas ruko kami. ya, acara ini berlangsung di ruko milik perusahaan yg papa bangun. usai membaca ratib, adzan maghrib berkumandang. para kaum adam itu pun bergegas mengambil air wudhu, berebut tak ingin didahului. usai sholat maghrib, dilanjutkan dengan makan. papa memesan cathering di restoran langganan keluarga kami. aku menghampiri mama yg telah datang dari membeli tiket.
"dapet tiket jam berapa?" tanyaku memotong pembicaraan mama dengan salah satu karyawati papa.
"jam 9"
"aku ikut nganter ke bandara ya"
"iya, ikuto" jawab mama melirik sekilas ke arahku.
jam setengah 8, mama telah bersiap-siap untuk pulang ke rumah, untuk packing pakaian yg akan dibawa ke makassar. mama menuruni tangga, disusul olehku dan kakak perempuanku bernama kiki. ketika mencapai di tengah-tengah tangga, mama mendapat satu panggilan telpon. aku meliriknya, dari Tante Isa, tanteku dari keluarga papa. mama mengangkatnya. di tengah-tengah percakapan, suara mama menjadi bergetar, seolah menahan tangis. tak lama, air mata bergulir di pipi mama. 'pasti ada yg gak beres,' pikirku dalam hati. telpon ditutup. "nenek sudah bener-bener sekarat, kakinya dingin, cuman perutmya yg bergetar" ucap mama usai menutup telpon. kami pun bergegas menuruni tangga, menemui papa. aku berdiri tepat dibelakang punggung papa yg membelakangiku memerhatikan anak-anak yatim piatu itu. mungkin beliau sedang memikirkan nasib nya yg tak lama lagi akan menjadi anak yatim piatu. nenekku yg lagi sekarat ini adalah ibu dari papaku. ayah dari papaku telah meninggal bahkan sebelum aku dilahirkan. atau mungkin papa memikirkan nasib anak-anaknya kelak yg juga akan menjadi yatim piatu bila beliau meninggal kelak. entahlah.
tak lama, papa mendapat satu panggilan telpon, entah dari siapa. sepertinya dari orang yg sama, karena tiba-tiba suara papa juga bergetar menahan tangis. papa terus berkata "yg kuat ummi, yg kuat" dengan suara parau. kiki yg berada di sebelahku menggeser badannya dan kini sudah berada tepat di belakang papaku sambil mengelus-elus punggung papa lembut. telpon ditutup, papa meraih mic yg ada di atas soundsystem di sebelahnya. meminta do'a dari anak-anak yatim piatu untuk kesehatan nenekku. usai membaca beberapa do'a pendek, papa meletakkan mic di tempatnya semula. kemudian beliau meraih handphonenya dan mendapat satu misscall dari salah satu pegawai papa di Makassar. kemudian handphone nya kembali berdering, dari tante isa lagi. tak lama setelah papa mengangkat telpon itu, dengan airmata yg tiba-tiba mengalir deras, beliau mengucapkan kata yg sangat sakral menurutku saat itu, "innalillahi wa inna ilaihi roji'un" kata papa dengan suara serak oleh tangis. semua orang langsung menolehkan wajahnya ke papa. refleks, keluargaku mengeluarkan air mata tanpa bisa dihentikan. kiki terus mengelus punggung papa yg kini menyandarkan kepalanya ke tembok. aku tahu betul apa yg beliau rasakan.
papa membalikkan badannya ke arahku. lalu merengkuhku, kiki, mama, dan ichsan. aku bisa merasakan betapa rapuhnya beliau saat itu. "mau ikut ke makassar?" tanya papa padaku dan kik usai melepaskan pelukannya. kami berdua langung menganggukkan kepala. papa meletakkan handphonenya di atas soundsystem kemudian mengambil mic untuk memberitahukan meninggalnya nenek kami. serempak para tamu dan anak yatim piatu mengucapkan innalillahi. dengan tuntunan ustad dan Habib (salah satu sahabat papa), papa membaca do'a untuk nenek. usai membaca do'a, papa meletakkan mic itu di tempat semula. usai menyerahkan acara malam itu kepada karyawan, papa langsung menyeret kami menuju mobil pak arifin (sahabat papa). malam itu kami benar-benar buru-buru, dan belum menyiapkan mobil, maka kami memutuskan untuk menggunakan mobil pak arifin.
to be continued again...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar